Minggu, 13 September 2015

Bagian 3: Boku no taiyou (matahari ku)

Diposting oleh Vina Rizky di 07.18
"Seperti matahari yang menyinari dunia, begitulah dirimu menyinari hari-hariku"



                  Festival sekolah sudah resmi dibuka semua menikmati acara dengan perasaan senang, dibuka dengan pemotongan pita di depan panggung oleh kepala sekolah sebagai simbolis. Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai sangat jelas tedengar, semuanya menikmati. Banyak acara hari itu, ada acara musik, drama muskal, menari/dance juga stand-stand makanan. Tentu fumie tidak mau melewatkan setiap acara yang ada, ia merasa harus menikmati semuanya hari ini diacara sekolah. Saya sedang asik berfoto dengan yang lainnya, fumie hanya melihat dari kejauhan ia bingung saat Saya membaur dengan oranglain bagaikan ada dinding yang memisahkan dirinya dengan sahabatnya itu, fumie terlalu bingung untuk memulai sebuah percakapan dengan orang baru. Fumie asik dengan minumannya, minuman coklat kesukaannya. Ia berjalan sendiri menuju stand lain sambil melihat-lihat, saya menyusul dibelakang. Saya bersuara karena melihat seseorang berjalan dari arah yang berlawanan membuat fumie menoleh kearahnya tapi Saya justru menyuruh fumie melihat ke arah depan. Tanpa fumie sadari ia sudah berjalan secepat itu dan sedekat itu dengan dirinya.
“Hai, wah ada minuman boleh minta?” ucapnya. Fumie hanya mengikuti kata-kata itu dan memberikan minuman ditangannya. Lalu serasa waktu berhenti sebentar, saat izumi mengembalikan minuman itu baru fumie teradar.
            “Ahh minumannya?” fumie terlihat bingung.
“Hehe aku cuma bercanda kok tadi, yaudah duluan ya” jawabnya. Fumie hanya menganggukan kepalanya.
Orang itu kembali berjalan meninggalkan fumie sendiri, ada yang ingin fumie katakan tapi tidak tersampaikan. Ia memandang minuman tadi, kenapa Izumi bersikap ramah kepadanya? Apa memang ia selalu bersikap begitu ke oranglain? Atau ini cuma perasaan ‘berlebihan’ sepihak yang dirasakan fumie. Di tempat yang berbeda, teman-teman Izumi bingung kenapa setelah kembali izumi bertingkah aneh, ia tersenyum sendiri dan sesekali bergumam sesuatu.
“Gimana.. kalian cuma ngomongin minuman?” bahas Saya
            “Kamu denger?” fumie setengah berteriak kaget
“Iyalah.. kan aku disamping kamu… atau.. jangan-jangan kamu gak sadar” saya terlihat muram
            “Iya dia cuma nyapa tapi kenapa dia harus senyum”
“Mungkin karena dia senang bertemu fumie.. atau dia hanya memberi senyuman? Tapi tadi sepertinya dia tulus”
            Setelah obrolan itu fumie dan saya kembali berkumpul dengan teman sekelas mereka, festival hari ini sangat meriah. Selain dihadiri oleh siswa-siswi nya banyak juga murid dari sekolah lain yang datang, semua menikmatinya. Banyak perlombanan, stand yang menjual berbagai macam makanan dan masih banyak lagi. Bahkan ada live music juga drama yang membuat acara hari itu semakin menarik. Fumie menghampiri semua stand yang ada, ia mencicipi semua makanan yang ia suka sembari melihat ke langit, matahari bersinar dengan cerahnya membuat fumie iri, mengapa cahaya begitu menyilaukan walaupun matahari indah tetapi matahari sangatlah jauh dan tidak bisa dilihat dengan jelas oleh mata. Sebuah perasaan kecewa terlintas, belakangan ini fumie menjadi pribadi yang murung, ia pun merasakannya. Semenjak jauh dari Izumi, dirinya mulai menjadi pendiam seperti dulu, padahal saat mengobrol dengan izumi ia bisa menjadi diri sendiri, dapat menceritakan apa saja dan dengan izumi mendengarkan ceritanya saja sudah membuat fumie senang. Tiba-tiba rintik hujan turun. Disaat seperti ini pikir fumie, ia berteduh di sebuah stand fhotobox. Semua yang ada di lapangan juga melakukan hal yang sama, untung saja standnya cukup besar sehingga dapat menampung orang banyak, panggung pun sudah di antisipasi agar tidak basah dengan atap. Sebagian berteduh di bagian-bagian sekolah. Fumie menundukkan kepalanya, sambil melihat rintikan hujan itu. Sangat mudah hari cerah berubah menjadi mendung dan hujan, tidak bahkan tadi tidak mendung. Terkadang hujan turun tanpa sebuah peringatan. Semua yang berteduh di stand saling mengobrol satu sama lain, hanya fumie yang sendirian. Ia memilih mengambil earphone nya dan mendengarkan lagu sambil menunggu hujan mereda. Ia kembali menatap langit, tidak terlalu gelap hanya saja matahari terlindung oleh awan. Fumie menunggu matahari itu muncul lagi. Lalu sebuah hal muncul dikepalanya seperti sebuah petunjuk. Walaupun fumie tidak tahan dengan silaunya matahari tapi ia selalu mencoba melihat matahari dengan matanya sendiri, sama seperti ia menyukai Izumi, walau susah dan bingung harus berbuat apa, fumie selalu melihat ke arah izumi dan terkadang hal itu dapat membuat fumie bersemangat kembali sama seperti sinar matahari yang dapat memberikan energi bagi dirinya. Hujan bisa tiba-tiba datang tanpa peringatan, walau tidak mendung. Kesedihan dan kekecewaan bisa saja datang tanpa fumie tahu , walau ia belum menyiapkan diri untuk hal itu. Matahari yang tersembunyi oleh awan saat hujan turun. Fumie tercengang, kenapa ia baru menyadari hal itu betapa izumi sangat berarti baginya.
“Ahh langitnya sudah cerah kembali” ucap salah satu yang berada di stand. Fumie mendengarnya samar-samar. Ia memasukkan earphone nya kembali dan tersenyum.
            “Matahari sudah kembali” ucapnya.
“Fumie….” Panggil seseorang.
            Fumie menoleh ke arah suara. ‘”Ahh izumi, ada apa?”
“Tadi saya mencari kamu saat tidak sengaja bertemu aku” jawab Izumi.
Fumie hanya tersenyum, ia yakin itu hanya akal-akal an sahabatnya saja.
            “Stand photobox. Kamu mau fhoto?” Tanya izumi lagi.
“Bahkan aku tidak tau ini stand apa, tadi cuma nyari tempat untuk berteduh” Fumie tertawa.
            “Gimana kalo kita fhoto, bisa diskon lo aku kenal sama yang mengurus stand ini…” ucap izumi memanggakan diri.
Dibanding harus bilang iya atau tidak, fumie lebih memilih berteriak dulu dalam hati. Kenapa hal ini bisa terjadi, izumi sendiri yang mengajaknya berfhoto.
            “Ayo jangan melamun aja ntar diskonnya hangus”
Fumie menyadari satu hal, walaupun ia sangat menyukai dengan sinar matahari, hujan pasti akan tiba. Walaupun ia sangat menyukai izumi, kesedihan pasti akan menghampiri tanpa ada peringatan sekalipun. Dan fumie sudah menemukan matahari yang bisa ia lihat dengan jelas tidak se menyilaukan matahari yang selama ia kagumi. Matahari nya ini bisa ia lihat dengan jelas, sekarang Izumi lah matahari milik Fumie.
Festival pun kembali berlanjut saat hujan berhenti, dan semua orang kembali menikmati acara seperti sebelumnya, karena saat hujan turun pasti matahari akan kembali muncul dan bersinar kembali.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Be your self~ Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting