kelas sudah mulai terhias sebagian,tinggal 3 hari
sebelum perayaan hari jadi sekolahnya. Tentu semua murid sibuk untuk kegiatan
rutinan itu, semua membagi tugas ada yang bertugas untuk mendekor
ruangan,menyiapkan bahan yang diperlukan,mengumpulkan dana semua mereka lakukan
agar acara tahun kedua mereka kembali sukses. Sebagian lagi ada yang bersiap
dan berlatih dalam lomba seperti sepak bola,menyanyi,menari,memasak, mereka
juga antusias berharap kelas mereka kembali memenangkan kejuaraan kelas paling
bagus,unik dan menarik. Walaupun suasana dikelas agak rebut karena banyak yang
dikerjakan fumie tetap fokus dengan pekerjaannya sampai ia tak sadar ada yang
duduk disampingnya.
“Izumi, sejak kapan kamu disana?” Tanya nya,
laki-laki itu malah tersenyum.
“Kamu
sih terlalu asik menempel jadi tanpa sadar aku sudah ada disini” jawabnya
enteng. Fumie terdiam sebentar ia terlalu kaget dan kagum dengan hadirnya orang
itu juga senyum termanisnya. Fumie menggelengkan kepalanya, itu terlalu
berlebihan.
“Ahh iya tinggal sedikit lagi selesai kok” jawab
Fumie santai.
“Kata
siapa.. ini..” Izumi mengambil tumpukan yang berserakan dilantai dibawah meja.
Fumie lupa, ia meninggalkan separuh dari kertas yang belum digunting.
“Ahh iya aku lupa, kalau masih ada.. tapi..”
“Aku
aja yang urus ini, kamu terima beres aja”
Tapi tentu Fumie masih disana sampai Izumi
menyelesaikan tugas -memotongnya- gadis itu bingung harus mengatakan apa agar
suasana tidak terlalu hening, tinggal ada mereka berdua yang masih mengerjakan
tugas sampai sore hari, sisanya hanya datang untuk merapikan kelas. Mungkin
Izumi merasa diperhatikan, lalu berhenti sejenak dari pekerjaannya.
“Sudah sore, lebih baik kamu pulang duluan”
Fumie bingung harus menjawab apa, ia tidak ingin
meninggalkan Izumi tapi karena hari sudah sore dan ia ada janji dengan ibunya
untuk menyiapkan makan malam. Fumie mengangguk. Tapi beberapa detik kemudian
Izumi juga beranjak dari tempatnya duduk, mengumpulkan pekerjaannya tadi dan
memasukannya ke dalam tas. Ia juga baru sadar hari sudah mulai larut.
“Yang lain juga sudah pulang,lebih baik aku bawa
pulang” ucapnya membuat Fumie tersadar. Gadis itu baru saja menyadari satu hal.
Andai ia sadar lebih cepat.
“Ah
iya… kenapa aku tidak kepikiran ya untuk membawanya pulang. Jadi tidak harus
pulang sore begini..” fumie menjawab sambil mengambil telepon disaku bajunya.
Izumi melihat Fumie yang sedang menjawab telponnya.
Banyak yang ingin Izumi tanyakan tapi masih tertahan, ia bingung harus memulai
darimana. Ia cukup kagum pada teman sekelasnya itu, fumie anak yang cukup
pandai dan sangat akrab dengan Saya, tentu Izumi tau karena kemana-mana mereka
selalu berdua. Sudah bagaikan surat dan perangko. Izumi saja tidak mempunyai
satu teman yang sangat lengket dengannya seperti fumie dan saya. Dan sekarang,
fumie tetap mau menunggu Izumi menyelasaikan pekerjaannya. Padahal dari 30
menit yang lalu Izumi sadar bahwa Fumie sudah gelisah, ia menunduk melirik jam
tangannya. Ia cukup bisa menyembunyikan hal itu, mungkin ia tidak enak pada
Izumi dan sepertinya tebakan Izumi benar, gadis itu memiliki janji dengan
seseorang, tapi meski begitu ia tetap berada dikelas. Mungkin kalau Izumi tidak
berinisiatif untuk membawa pekerjaan itu ke rumah, sekarang mereka masih berada
dikelas tanpa sadar malam sudah datang.
“Maaf Izumi, membuat menunggu..” fumie menggeleng.
Kenapa ia seakan yakin kalau izumi menunggunya.
“Tidak
apa-apa. Ayo pulang. Kebetulan rumah kita searah kan?” tanyanya.
“Iya. Kamu tau?” Tanya Fumie.
“Tentu
saja, tiap pagi. Kalau kamu sudah lewat depan rumahku berarti sudah saatnya
juga aku berangkat hahahaha”
“Jadi tiap pagi aku selalu melewati rumah Izumi?”
“Iya.
Sebelum kamu lewat aku tidak akan berangkat soalnya waktu kamu dari rumah ke
sekolah itu pas. Sampai sekolah tidak terlalu siang juga”
“Jadi…”
“Ehmm
beberapa kali aku berjalan dibelakang Fumie, tapi kamu mungkin tidak sadar”
Deg! Kenapa.. fumie bahkan tidak tau dimana rumah
Izumi. Ia hanya tau bahwa jalan rumah mereka searah dan bahkan tiap pagi Izumi
berjalan dibelakangnya fumie juga tidak menyadarinya. Jarak rumah dari sekolah
hanya memakan 15 menit bila berjalan kaki, fumie jarang menaiki sepedanya
dengan alasan jalan kaki saja tidak memakan waktu lama jadi buat apa bersepeda.
Terlalu dekat jaraknya. Sesampainya dirumah fumie langsung ganti baju dan mandi
setelah itu menuju dapur untuk membantu mama nya memasak. Fumie masih
memikirkannya, berarti selama ini ia dan Izumi bertetangga tapi dia tidak
menyadarinya.
Pukul 6 pagi, fumie terbangun. Sebelum berpikir
untuk mandi ia memikirkan sesuatu tentang hari ini, pasti sangat sibuk
sampai-sampai ke kantin pun susah. Fumie berjalan ke dapur membuka kulkasnya
mencari makanan yang bisa ia bawa. Ia ingin membuat bekal hari ini. Untuk
menghemat waktu ia hanya membuat nasi goreng juga telur dadar. Nasi dan telur
sudah siap selanjutnya tinggal dicampur. Nasi diletakkan pada telur dadar lalu
dilipat, telur sudah menyimpan nasi itu lalu diberi tomat untuk menambah rasa.
Bisa dibilang ini omurice buatan fumie. Entah kenapa ia membuat 2 porsi.
Setelah dimasukkan pada tempat bekal, ia kembali ke kamar lalu mandi dan siap
berangkat ke sekolah, untuk sarapan Fumie lebih memilih memakan roti dengan
selai juga susu putih, cukup membuat perut Fumie kenyang sampai jam 9 pagi.
Walaupun ada makanan lain pun tetap Fumie memilih roti untuk sarapan.
Fumie
berjalan menuju sekolah,lalu dimana rumah Izumi pikirnya. Haruskah ia melihat
ke semua rumah yang ia lalui, sesekali fumie menoleh ke belakang tidak ada
sosok Izumi disana. Rasanya tiap 10 langkah fumie menolah, izumi juga tidak ada
disana. Mungkin saat itu Izumi bercanda, hanya Fumie yang menganggapnya serius.
Gerbang sekolah sudah di depan mata, masih sepi seperti biasa belum ramai oleh
suara yang lain. Fumie melirik jam tangannya. Jam 7.15 kenapa sekolah masih
sepi,apa semua sudah berada dikelas dan fumie yang justru telat. Fumie kembali
melangkahkan kaki dan mendengar seseorang berjalan dibelakangnya, ia
membalikkan badan dan ada izumi disana ia terlihat cukup lelah.
“Ah untung saja tidak telat. Ayo” ucapnya sambil
menepuk bahu fumie dan berjalan masuk menuju kelas.
Fumie merasakan kembali perasaan itu, apa yang ia
rasakan campur aduk antara senang,kaget dan malu. Izumi selalu baik padanya, ia
hanya tidak ingin perasaannya semakin bertambah dan membuat keadaan menjadi
sulit. Tapi keinginan untuk berusaha jelas ada di benak fumie, ia ingin
mempertahankan perasaan walau ia tau keraguan selalu menghampirinya.


0 komentar:
Posting Komentar