Sudah banyak waktu berlalu sejak liburan akhir
semester. Waktu untuk istirahat setelah menguras pikiran untuk belajar
disekolah. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan dirumah atau diluar rumah selama
liburan, yang paling sering dilakukan tentu berlibur bersama keluarga besar
atau bisa juga sekedar berjalan-jalan. Semua sudah dilakukan Rona untuk mengisi
3 minggu liburnya, berjalan dengan keluarganya, keluar dengan teman-teman,
membantu mama memasak atau membantu ayahnya mengus taman, menemani kakak nya
memilih aksesoris otomatif. Bahkan membantu meringankan pekerjaan Mbok Ijah,
bibi dirumahnya. Hanya satu yang tidak. Yaitu membantu Pak Ahmad, supir
keluarganya. Rona tidak bisa menyetir mobil dan tentu belum memiliki SIM. Gadis berlesung pipit itu hanya berdiam diri
di kamar sambil memeluk boneka kesayangannya. Saat handphone nya berbunyi, ia
terpaksa bangun meraih dan membaca pesan itu.
“Yang lain hari ini berencana ke festival. Kamu
ikut?” pesan yang dikirim oleh sahabatnya, Naomi. Rona berpikir sejenak dan
mengetik lalu mengirimnya. Saat pesan Naomi kembali masuk ia kaget bahwa Naomi
sudah menuju rumahnya.
Saat rona baru selesai mandi dan ingin mengganti
bajunya, pintu kamarnya diketuk dari luar.
“Rona..
kamu sudah siap ini Naomi udah jemput kamu” ucap sang Mama.
“Iya ma ini juga siap-siap suruh Naominya tunggu
dulu di ruang tamu” jawab Rona.
“Ron..
jangan lama-lama ya. Haha” suara Naomi terdengar mendengung di telinga Rona.
“Heii jangan panggil aku begitu….” Teriak Rona.
Rona memasukkan barang yang ia perlukan ke dalam tas
selempangnya. Ia ikut pergi karena sudah bingung harus melakukan apa lagi untuk
membunuh rasa bosannya. Mungkin ikut ajakan Naomi akan sedikit menghiburnya di
akhir masa liburan ini. Saat rona menuruni tangga ia melihat Naomi dan kakaknya
sibuk membicarakan model motor sport baru, rona yang tidak sengaja mendengar
percakapan mereka saja tidak menemukan dimana terdapat hal seru dan Naomi,
sahabatnya itu malah terlihat exitied didepan kakanya.
“Naomi
ayo, katanya tadi jangan lama” ajak Rona
“Ah rona udah siap, ehmm yaudah kak Rendra aku sama
Rona pergi dulu ya entar kita sambung lagi” ucap Naomi
“Rona,jadi
anak manis ya jangan ngerepotin Naomi” ucap Rendra sambil mengelus kepala
adiknya. Tentu Rona langsung menepis tangan sang kakak. Naomi hanya tertawa
melihat pemandangan itu.
“Jadi sebenarnya kita mau kemana sih Nao? Aku asal
ikut aja daripada kebosanan dirumah. Rasanya 3 minggu libur kelamaan…” ucap
Rona sedikit kesal.
“Yaudah
lah ikut aja kamu pasti seneng kok siapa tau ada Ken” balas Naomi.
“Bentar, kok Ken? Emang ini acara kelas? Kok bisa
ada dia?” Rona mencoba meluruskan.
“Kan
tadi aku bilang yang lain hari ini ke acara festival. Hmm mungkin dia ada juga”
Naomi menyusun kalimatnya.
“Lalu haruskah aku juga pergi? Mending bosan dirumah
deh.. kamu gimana sih apalagi kalo ada dia ya ampun Naomi waktu 3 minggu gak
ada gunanya kan kalo akhirnya ketemu dia juga” Rona terlihat frustasi.
“Bukannya
cepat atau lambat kalian juga bakal ketemu ya? 2 hari lagi kita masuk loh
lagipula kita satu sekolah bahkan sekelas..” Naomi terlihat ragu melanjutkan
kalimatnya.
“Makanya aku bilang.. waktu 3 minggu jadi sia-sia..”
Rona menahan rasa kesalnya, ia tau ini bukan salah Naomi hanya saja ia belum
siap bertemu Ken lagi.
*flashback*
Pulang
sekolah setelah hari terakhir ulangan, kelas Rona makan bersama. Hampir seluruh
murid datang, walau ada yang berhalangan datang. Rona membaca lagi pesan yang
ia dapat dari ken. teman sekelasnya yang tidak terlalu dekat dengannya tapi
sesekali mreka mengobrol tentang kesukaan mereka yang sama. Rona hanya sesekali
menyapanya saat di kelas, kecuali suasana kelas tidak terlalu ramai ia mencoba
memberanikan diri mengajak Ken bicara. Ia tahu ken selalu membalas sapaannya,
selalu mau ia ajak bicara dan selalu baik padanya. Tapi Rona selalu ragu saat
ingin mencoba mengakrabkan diri lagi, hanya takut melakukan kesalahan. Rona
tidak ingin terlihat seperti menganggu Ken. Rona menyukainya. Itulah sebabnya
rona terus menjaga jarak, ia tidak perasaannya terbaca karna tanpa oranglain
tau, rona selalu tersenyum saat ada Ken atau setelah berbicara dengannya. Terasa
degupan dihatinya saat Ken yang lebih dulu mengajaknya bicara, apalagi saat ken
mengiriminya pesan. Apa saja. Membicakan tugas atau hobi mereka yang kebetulan
sama. Tapi rasanya Rona melakukan satu hal. Hari itu ia sangat khawatir dengan
ken karna tiba-tiba saja ia pulang setelah istirahat pertama. Sampai rumah pun
rona masih khawatir. Memberanikan diri Rona mengiriminya pesan saat Ken
membalasnya dan brtanya ada apa. Sedikit rasa was-was yang dirasakan Rona tadi
memudar. Ia tau bahkan Ken baik-baik saja. Awalanya Rona tidak ingin
membalasnya tapi karena itu tidak sopan ia pun mengatakan tidak apa-apa hanya
kebetulan ia mengingat Ken. tapi tidak ada balasan lagi. Rona merasa bingung
saat harus bertemu Ken lagi. Hari itu pun ternyata Ken tidak ada, setelah jam
ulangan selesai ia sudah tidak berada disekolah lagi. Dan sampai pada waktunya
liburan, rona bertekad selama liburan ia harus bisa berhenti memikirkan Ken.
waktu liburan cukup untuknya melupakan lelaki itu, karena tidak bertemu dalam
waktu yang lama ia yakin bisa melupakan Ken.
“Rona.. ronaaaa kita udah sampai” teriak Naomi
membuat lamunan Rona pudar.
“Sudah
sampai? Loh inikan taman deket rumah kamu.,. acaranya disini?” Tanya Rona.
“Ia memangnya kenapa? Kamu kecewa karna tempatnya
deket?” Tanya balik Naomi.
“Bukan
gitu, maksudku.. inikan taman daerah komplek rumah kamu tapi kamu malah mau
repot-repot jemput kerumah ku dulu.. ohh makasih yaa Nao..” Rona memeluk sahabatnya
itu.
“Memang terdengar konyol sih aku udah dandan padahal tempatnya cuma perlu waktu 5 menit
dari rumah dan bodohnya lagi aku harus kerumah temen yang jaraknya itu lumayan
lah 20 menit kalo naik mobil buat ngajak dia ke acara festival yang kalau dari
rumahku cuma 5 menit. Astaga kita pasangan bodoh Rona….” Naomi terlihat sok
frustasi untuk mendramatisir keadaan.
“Ahh
sekali lagi makasih yaa kamu memang teman terbaikku. Oh iya pak Romi makasih
juga ya udah mau repot-repot jemput Rona buat ke taman. Maaf kami konyol pak..”
ucap Rona.
“Ah non Rona ini kaya ama siapa aja… toh non Rona
dan non Naomi sudah berteman sejak kecil” jawab supir keluarga Naomi itu.
Saat Naomi kembali ke mobil untuk mengambil tasnya,
Rona melihat punggung seseorang. Terlalu mirip dengan Ken, perasaannya tidak
enak, haruskah semua berakhir hari ini. Saat Naomi kembali, mereka pun masuk ke
taman. Entah ada acara apa hari itu festival dirayakan. Banyak orang berjualan
makanan juga bazaar dan live music. Naomi yang tinggal di daerah situ aja tidak
tau menau kalau tidak dihubungi ketua kelas mereka yang terkenal otaku. Dia
selalu menghabiskan waktu senggang setelah belajarnya dengan menonton
anime,membaca komik atau manga online. Tapi yang harus disalutkan adalah
walaupun ketua kelas adalah seorang otaku ia masih sempat belajar dan mendapat
nilai akademik serta non akademik yang baik. Saat dirumah pun setelah belajar
ia masih sempat mendownload anime series favoritnya juga mengumpulkan action
figure. Sungguh pas dengan kacamata yang ia pakai. Naomi menunggu yang lain
datang selagi Rona membeli minuman. Terlalu banyak yang mengantri membuat Rona
tidak sengaja menabrak badan seseorang saat orang itu berbalik dan ingin keluar
dari antrian. Saat itu gantungan HP yang Rona pegang terjatuh membuatnya harus
menunduk saat mengucapkan maaf pada seseorang yang ia tabrak. Saat rona mencari
orang itu, ia sudah pergi. Rona kembali membawa minumannya dan Naomi. Ia
mendengar ketua kelas sedang berbicara.
“Naomi.. kenapa kamu gak bilang sih ada festival
disini kalau tau dari awalkan aku tidak susah mencari lokasinya. Ada bazaar
komik lumayan” ucap Hagi, ketua kelas.
“Ahh
ketua kelas terlalu bersemangat” ucap yang lain.
“Setidaknya kan kalian sudah ada disini bagaimana
kalau pulangnya mampir ke rumah ku dulu. Tidak jauh kok cukup jalan kaki pun
hanya membutuhkan waktu 5 menit” ajak Naomi.
“Memangnya
banyak makanan?” Tanya Reni yang membuat Naomi langsung mencubit pipi tembem
nya.
Rona melihat itu dari jauh dan segera mendekat tanpa
disadari temannya yang lain, saat Rona melangkahkan kakinya lagi selangkah
tatapannya bertemu seseorang. Seseorang yang duduk di bangku panjang di bawah
pohon tepat dibelakang tempat teman-temannya berkumpul. Rona terdiam sesaat,
orang itu memberikan senyuman terbaiknya.
“Hei rona… ucapnya.
“Ahhh
rona, makasih udah mau beliin aku minuman ya..” Naomi langsung merangkul Rona
agar situasi canggung tadi berhenti.
“Baiklah karena kita semua sudah berkumpul ayo kita
menikmati acara hari ini baru pulangnya kerumah Naomi.” Ucap hagi yang diiyakan
oleh anak lain.
Rona
masih dalam rangkulan Naomi, ia tau jelas sahabatnya itu kaget tiba-tiba
bertemu Ken tapi bagaimanapun juga ia tidak ingin melihat Rona membohongi
perasaannya karena alasan tertentu. Mereka berjalan di barisan paling belakanh,
Naomi memberi semangat dengan mengatakan bahwa semua akan berjalan baik hari
ini. Rona menganggukkan kepalanya karena tidak ingin melihat Naomi khawatir.
Sedangkan Ken, ia hanya terkejut melihat gantungan milik Rona sama persis
dengan miliknya hanya beda warna, ia kembali mengingat kejadian dulu saat ia
merasa perasaan Rona terhadapnya. Tapi Ken terlalu gengsi untuk mengakuinya, ia
tahu Rona seperti member batasan antara dirinya dengan Ken tanpa alasan yang
jelas Ken menganggap hal itu karena Rona tidak suka bergaul dengan dirinya.
Tapi terkadang Rona bisa seperti sangat perhatian kepadanya, Ken tau dengan
jelas saat ia mendapat kesulitan kenyataannya Rona lah yang menjadi orang
pertama yang berniat membantunya walau dengan cara yang beragam pada akhirnya
Rona lah yang membantu Ken, karna Ken tau gadis itu berniat membantunya hanya
saja ia tidak bisa secara terang-terangan menyampaikan maksudnya. Ken yang
mengerti mengambil inisiatif terlebih dulu sampai akhirnya Rona brhasil
membantunya. Hanya saja ken ragu, terkadang ia merasa gadis itu menjauh dan tak
acuh lalu terkadang lagi ia melihat gadis itu sangat memperhatikannya dan ingin
selalu membantunya.
“Hmm gimana kalo kita bagi kelompok? Satu kelompok 4
orang terus kita berpencar. Tujuannya kita harus memasuki semua bazar dan
melihat kegiatan yang ada di sini, hmm jangan lupa juga mencicipi makanan yang
ada. Dan sebagai bukti harus ada fotonya” usul Tami, wakil ketua kelas.
“Wahh
benar juga Tam, supaya seru ya, lalu kelompok yang paling heboh diizinkan untuk
berada dipanggung melakukan apapun” tambah ketua kelas.
“Kenapa hadiahnya tidak makanan gratis saja sih
ketua?” protes Reni.
“Ahhh
sudahlah ren kamu udah sejahtera gitu masa mau tambah porsi makan lagi” tambah
Naomi diiringi tawa yang lain.
“Jadi karna yang hadir hari ini ada 20 orang, kita
bagi jadi 5 kelompok. Silahkan cari anggotanya masing-masing” ucap Tami.
“Ken,
kita harus satu kelompok oke” Hagi langsung menarik tangan ken. dan juga Naomi
kita harus sekelompok karena kamu yang paling tau daerah ini.
“Ehmmm kamu gak papa kalau misalnya kita sekelompok
sama Ken, maaf Rona aku gak bermaksud buat kamu sulit..” Naomi terlihat
menyesal.
“Gak
papa kok siapa tau kamu bisa cinlok sama ketua kelas hihihi” Rona mencoba
menghibur.
“Rona kamu jangan asal ngomong dong… tapi tunggu
kenapa Tami? Ah kamu gak rela ya kalo aku cinlok sama yang satunya si..” Naomi
menggoda sahabatnya itu.
“Ehmm
bukan aku yang bilang ya..” Rona berusaha menahan tawanya.
Ken mendengar percakapan itu, ia semakin tidak
mengerti tentang Rona. Apa yang gadis itu rasakan, lalu apa benar hari itu dia
mengirim pesan hanya karena merasa khawatir pada Ken.
“Jadi rute kita ke bazaar komik dulu setelah
terserah kalian” perintah Tami.
“Up
to you..” Naomi berkomentar.
“Tapi sepertinya ada yang aneh, kenapa rasanya ada
sesuatu mengganjal? Kenapa Ken dan Rona hanya diam saja? Kalian lapar?” Tanya
Tami penasaran.
“Ahh
ketua lebih baik kita duluan saja. Biarin aja mereka makan dulu” Naomi mengajak
Tami lebih dulu ke stand komik.
Hanya Ken dan Rona. Berdua. Sebaiknya apa yang harus
diucapkan lebih dulu?.
“Berapa lama? 3 minggu.. tidak terasa kita udah mau
masuk lagi” Ken mengambil keputusan lebih dulu, ia tidak ingin menyesal.
“Ahh
iya.. liburan kamu gimana?” Rona berusaha bersikap seperti biasa.
“Mungkin tidak seseru yang kamu rasakan” Ken kembali
tersenyum.
Hal itu yang dibenci Rona saat bertemu lagi dengan
sosok Ken. ia selalu membuat hati Rona goyah, tidakkah Ken tau bagaimana ia
melalui masa liburannya menyibukkan diri agar bisa melupakan Ken
dan sekarang lelaki itu mengatakan tidak seseru
liburannya. Rona benar-benar merasa masa liburannya berakhir. Ia berhenti di
salah satu stand makanan. Mungkin ken berpikir ia benar-benar lapar tapi jauh
lebih baik daripada Rona harus berbicara dengannya lagi. Mereka hanya diam,
tidak ada satupun suara yang keluar, mereka berusaha sibuk dengan makanan yang
sudah dipesan. Sampai beberapa saat kemudian, Rona mendapat pesan dari Naomi.
“Hei ken coba lihat, banyak sekali komik yang
kudapat ayo bantu aku cari yang lain” perintah Tami yang sibuk dengan tas
jinjingnya.
“Hei
ketua kelas itu sudah banyak. Haruskah mencari lagi?” keluh Ken.
“Bagaimana kalau kita bantu juga Naomi?” saran Rona.
“Aku
sudah frustasi, aku tidak mengerti dengan apa yang kalian baca” jawab Rona.
“Itu seru…” entah mengapa jawaban itu serempak
keluar dari mulut Rona,Ken dan Tami.
“Ahh
aku lupa kalian memiliki kesamaan suka membaca komik. Gomenne” hanya kalimat
maaf dari bahasa jepang yang diingat Naomi.
Rona tersenyum, satu bagian dari dirinya yang sudah
lama ia lupakan kembali menyatu. Ia baru menyadari sekali suka ia akan tetap
suka. Meski sudah lama ia tidak membaca komik ataupun menonton anime, rasa suka
itu masih tetap ada. Secara otomatis ia langsung mencerna apa yang dikatakan
Tami dan membantunya mencari komik. Walaupun rona sudah berusaha berhenti, tapi
rasa suka itu kembali hadir saat kita bertemu dengan apa yang sangat kita
sukai. Sebuah sengatan dirasakan Rona, ia melihat Ken didepannya memilih-milih
komik yang ada, sama persis saat mereka bertemu setahun silam. Ken sangat
terkejut karena Rona berada diperpustakaan sekolah hanya untuk mencari komik
baru yang datang, mungkin menurutnya aneh ada wanita yang sangat menyukai
anime, berbeda jauh dari temen wanita kebanyakan. Tapi Ken malah menyuruh Rona
melihat komik yang disukainya, beberapa judul anime favoritnya dan semua
berjalan begitu saja sampai akhirnya mereka kenal walau tidak terlalu akrab.
“Apa aku kembali menyukai Ken?” kalimat itu jelas
terdengar ditelinga Ken.
“Rona
kayanya aku harus menjelaskan sesuatu. Malam itu maaf aku tidak membalas pesan
mu lagi bukan karena aku kehabisan pulsa atau malas membalas, hanya saja malam
itu aku sibuk karena ada keluargaku yang pindah rumah. Jadi aku dan orangtua ku
membantu, makanya hari itu aku pulang sekolah lebih dulu. Sebenarnya aku baru
membancanya waktu sudah larut malam, aku ingin membalas tapi takut ganggu kamu.
Hari terakhir ulangan juga, aku langsung pulang karena sepupu ku yang tinggal
jauh datang, dia berkata hanya sebentar dirumahku jadi aku bergegas pulang. Padahal
aku tau kelas kita berencana makan bersama. Sebenarnya sore harinya aku
mengirim SMS ke kamu, mungkin aku gak baca. Setelah itu maaf. Aku bingung harus
mengatakan apa jadi aku gak ada hubungin kamu lagi, tapi Rona jangan salah
paham bukannya aku gak tau kamu baik ke aku, bahkan sesekali aku merasa kamu peduli.
Tapi ada satu sifat yang aku bingungkan, kenapa setelah menunjukkan rasa peduli
itu aku merasa kamu jadi menghindari bahkan menjauh? Aku salah ya?” awalnya Ken
merasa sangat canggung tapi ketika ia mempu mengatakan apa yang selama ini ia
pendam, semua jadi terasa baik-baik saja.
Rona duduk disebelah Ken, ia juga ingin mengatakan
sesuatu.
“Maaf juga Ken kayanya bener pesan kamu gak aku
baca, aku ingat pulang dari acara makan itu hapeku low dan karena lupa mencharger
sampai seharian Hpnya mati, memang adasih notif pesan tapi maaf.. kenyataannya
aku memang tidak tau ada pesan dari kamu. Juga hari itu aku takut, karna kamu
tidak membalas pesanku lagi. Banyak ketakutan yang ku rasa, takut kamu gak
suka, terganggu karena pesan yang aku kirim. Jadi itu juga alasannya kalau
setelah aku mengirimi kamu pesan esok harinya aku jadi menghindari kamu, karena
ketakutan itu..” ucap Rona.
“Salahku
juga Rona, kenapa tidak membalas atau bahkan menjelaskan kalau aku sama sekali
tidak terganggu..”
“Bukan ken, aku yang salah kenapa aku gak cerita
alasannya dari awal..”
“Tapi
mana mungkin sih kamu bakalan langsung cerita kalau aku aja gak kasih kamu
kesempatan. Maaf ya rona harusnya aku yang menjelaskan”
“Yang pasti dan akhirnya sudah jelas, kita sudah tau
alasan masing-masing. Jadi kita bisa kaya dulu lagi kan? ga canggung-canggungan
gini?”
“Ya,
tentu Rona”
Setelah percakapan itu, rona dan ken mendatangi
anggota kelompoknya, mereka merasa sudah banyak terbuang waktu hanya untuk
mencari komik. Naomi pun sudah kesal dan memarahi Tami. Mereka berjalan ke
stand lainnya, mulai berfoto sesuai perjanjian dan bertemu yang lainnya. Banyak
hal menarik yang mereka dapat hari ini, kelompok yang menang bukan kelompok
ketua kelas, tapi wakil karena mereka yang paling heboh. Naomi memasang muka
super bĂȘte, tentunya Tami merasa harus minta maaf. Naomi langsung menjauh dan
menarik Rona dari keramaian.
“Wah asik banget mengerjai ketua, dia kira aku
beneran marah hehehe” Naomi cengegesan.
“Kamu
sengaja. Kasian tau dia, entar gak jadi cinlok” ucap Rona.
“Siapa bilang, dia udah bilang suka kok..ehhh” Naomi
keceplosan dan ia sangat bingung.
“Harusnya
kamu kan bilang Nao, jadi aku bisa ngerti ini kamu gak bilang ihh sahabat macam
apa itu….”
“Rona maaf, bukan aku gamau bilang tapi belum dapat
waktu yang pas, lagipula aku tau kamu masih ada masalah..”
“Enggak
kok, aku sudah nyelesain semuanya sama ken ya walaupun awalnya kaget canggung
banget tapi entah kenapa kayanya rasa canggung ku ini yang buat Ken sadar kalau
aku peduli tentang dia Nao.. tadi padahal aku kesel banget dia baru ketemu hari
ini malah santai aja kasih senyuman ke aku…”
“Mana senyumannya manis kan Ron. Iyakan hahaha ciyee
Rona CBLK”
“Heiii
Nao kamu mau buat aku malu disini ya banyak orang kali.. duhh dasar pacar otaku
ketua kelas” terlambat suara Rona jauh lebih keras dari Naomi tadi, semua yang
ada disana mendengar termasuk Tami, ia diam sebentar dan entah kenapa bukannya
marah ia malah memasang muka polos dan tersenyum didepan semuanya.
“Astagaaa Ronnnnn kamu yang bunuh aku nih…. Eh Ken
dipanggil Rona tuh” Naomi menyeringai pada Rona yang artinya satu sama ya.
“Rona,
sebenarnya aku lebih suka kamu yang perhatian daripada menghindar gini..” ucap
Ken yang sebenarnya gugup.
“Oh iya saking pedulinya kamu tau ga gantungan HP ku
apa?” mungkin rasa percaya diri Rona kembali lagi.
“Persis
kaya gini kan, cuma beda warna?” Ken mengambil hp dari tasnya.
“Ken, kamu tau.. kok bisa?” kali ini Rona yang
benar-benar terkejut.
“Coba
sekarang kamu baca pesan dari aku, kasian dianggurin” pinta Ken yang sok marah.
Rona pun menurutinya, sungguh ia semakin terkejut. Dalam pesan itu sebenarnya
Ken sudah menjelaskan semuanya, hanya saja.. hanya saja Rona yang terlalu larut
dalam perasaannya bahwa ia salah dan merasa kalau ken membencinya. Kalau saja
ia tau lebih awal pasti waktu liburannya tidak ia paksa untuk melupakan Ken,
tapi ternyata perasaan suka itu jauh lebih kuat, walau selama libur ia
bersikeras melupakan Ken, tidak bertemu atau mendengar kabar dari Ken tapi saat
bertemu lagi perasaan itu kembali muncul.
“Karena aku menyukaimu rona jadi mana mungkin aku
bisa benci kamu? Aku hanya terlalu bingung bagaimana mengutarakannya.. gak kaya
kamu yang spontan” ucap Ken dengan tulus.
“Ken..”
jawab Rona. Ia sungguh tidak percaya hari ini berakhir sangat indah.
“Ayolah rona bilang aja kamu juga suka. Jangan buat
aku menunggu” Ken benar-benar ingin terlihat menggemaskan tapi Rona malah geli
melihatnya. Ia hanya tersenyum disusul anggukan pelan yang sudah menjadi
jawaban bagi Ken.


0 komentar:
Posting Komentar