Kamis, 24 April 2014

"Thank You"

Diposting oleh Vina Rizky di 01.49
Hari itu sangat dinatikan oleh Cinta, hari dimana ia kembali datang ke sekolah setelah libur panjang di Bandung,tempat ia dilahirkan. ide itu pertama kali dilontarkan oleh Bagas, kakak Cinta yang merasa akan sangat membosankan jika liburan hanya dirumah atai keliling-keliling tidak jelas dengan teman-teman sekolahnya di Jakarta. Cinta tidak menolak atau pun meng iyakan. Baginya liburan ke Bandung juga tidak masalah dan jika hanya di Jakarta pun ia juga tidak akan kecewa. selama 2 minggu di Bandung, Cinta dan Bagas seperti kembali ke masa kecil mereka, udara pedesaan di bandung masih terasa asri, jalanan pun tidak seramai dan semacet di ibu kota. Setiap kali tentangga sang nenek melihat Cinta, mereka langsung mengenali nya karena ia tak berubah banyak dari dulu, rambutnya yang panjang terurai juga menjadi salah satu ciri khas Cinta, sedangkan Bagas mereka mengenali dengan ingatan mereka bahwa saat masih kecil Bagas terkenal penakut dan cengeng.

"Bisa gak elo gak usah ketawa terbahak gitu?" Bagas melirik tajam ke arah adiknya itu.
        "Hah siapa? aku gak ngetawain abang kok, abang aja yang ke geeran" Cinta mendengus.
"Ehh Bagas, kamu teh gaboleh seperti itu sama a wewe apalagi teh dia itu adikmu semata wayang" Sang nenek tiba-tiba datang menceramahi Bagas.
         "Loh Bagas salah apa nek? Cinta tuh yang duluan"
"Bohong nek, kak Bagas tuh yang larang-larang aku ketawa"
         "Aduh cinta, siapa yang larang elo.. eh ralat. Kamu sih?"
"Yaudah yaudah kalian mandi dulu sana biar nanti dibikinin teh sama mbok nah"

Karena masih ingin berkumpul dengan kedua cucunya, nenek Cinta ikut ke Jakarta saat mereka kembali ke rumah, hal itu tentu sangat disenangi oleh cinta yang dari dulu memang dekat dengan sang nenek. Ada hal yang sangat dibenci nenek, yaitu perkataan yang dianggapnya 'kurang sopan' ia akan langsung mendengur apabila Bagas bicara dengan nada tinggi/kasar ke arah Cinta, walau sebenarnya itu biasa antara kakak dan adik yang tidak terpaut jauh umurnya, namun hal itu sangat dimaklumi oleh kedua cucunya tak jaranng Cinta menjelaskan bahwa itu hanya candaan semata bagi ia dan Bagas.

"Kamu udah mau berangkat?" pagi itu Bagas dengan sopan bertanya.
        "Tumben bang ngomongnya sopan? ada apaanih?" tanya Cinta polos.
"Pake belagak lupa lagi nih anak, kan ada nenek. Yaudah yuk berangkat" ajak Bagas
         "Hah kita? sejak kapan? kok...?"
"Ayo cepatan ke meja makan, Ayah sama Nenek udah nunggu" sang Mama memanggil.
         "Cuma buat hari ini doang" Bagas menjelaskan.

*menuju ke meja makan*

         "Makan yang banyak biar tumbuh tinggi" Bagas tertawa geli
"Hooh biar tinggi kaya tiang listrik ya terus elo kalah deh" Cinta tak mau kalah.
          "Makan yang baik dan benar jangan teh saling mencela kalian tuh" suara sang nenek kembali terdengar.
"Hehe iya ne nih udah mau selesai, mana teh nya?" Bagas bertanya dengan polos
          "Ini teh nenek yang bikin tadi, sok atuh diminum kang kasep neng gelis"


Sampai disekolah, semua mata tertuju pada Cinta bagaikan ia adalah seorang putri yang diantar pangerannya dari ujung kaki sampai rambut gerak-gerik cinta diamati dan itu membuatnya risih.

"Kalian kenapa?" tanya cinta bingung.
        "Gak tau yang lain, tapi kami liatin elo ya karna kangen lahhhhh" Sovia Shera dan Raisa langsung memeluk Cinta dengan erat.
"Ahh jangan lebay gitu aku kan jadi terharu huhuhuhhu" jawab Cinta sok dramatis.
        "Jadi gimana udah dapat cowok disana?"
"Disana seru gak? terus sejuk ga udaranya?"
        "Pemandangannya keren?"
"Gimana mau jawab satu-satu dong. Jadi ya gitu bener kata Sovia emang sejuk dan asri banget kan masih banyak pedesaan nya, terus pemandangan? ahh Sa gak usah ditanya deh ya jelas bagus lah mau gue kasih liat fotonya? ntar ya dikelas, nah kalo buat Shera?" Cinta mengantung jawabannya.
        "Pagi Cinta, maaf gue mau tau jawabannya elo yang gantung" ucap Shera.
"Dion" ujar Cinta sesaat ia terdiam.
         "Kenapa sama dion?" tanya Raisa.
"Hehe gapapa cuman ya gitu lama gak ketemu" jawab Cinta
         "Ehh bilang aja kangen, iyakan kangen ciyee ih neng gelis"
"Padahal baru pulang dari luar kota,tapi hati tetap disini ya"
         "Aduh kalian kenapa sih? gak gitu kok cuman ya gimana lama gak ketemu terus ketemu  ya beda lah"

Hari pertama sekolah yang diinginkan Cinta tenang harus sedikit terusik dengan becandaan ketiga sahabatnya. Dion, ya memang Cinta punya perasaan lebih kepadanya sejak setahun lalu, saat ,mereka masa orientasi sekolah. Hanya Dion yang mau mengajak bicara Cinta duluan, dia yang membantu Cinta mencari barang-barang dari teka-teki yang dibuat panitia OSIS, bisa dibilang Cinta dan Dion adalah sepasang teman. Ya sepasang, walau mereka bertaman tapi sepertinya Cinta mempunyai perasaan lebih.
Perasaan itu ada semakim berjalannya waktu, hingga Cinta bingung untuk menaggapinya ia sengaja menjauhi Dion agar perasaannya itu bisa tertutup rapat, ia takut dengan perasaannya akan membuat hubungan pertemanan nya dengan Dion berantakan. Walau sebenarnya itu sulit bagi mereka berdua, tapi Cinta berani mengambil keputusan.

"Elo masih pertahanin kebiasaan keras kepala elo itu?" tanya Raisa
        "Maksud elo Sha? gue ada bikin salah ya?" tanya Cinta
"Ada banyak. elo salah sama diri lo, boongin perasaan elo sendiri cinta" Raisa menekan kalimatnya.
        "Terus gue mesti gimana? gue.. gua cuman gamau.." Cinta kehabisan kata-kata
"Gak mau rusak hubungan pertemanan yang udah terjalinkan?iya kita semua ngerti tapi gak harus sama-sama nyiksa gitu juga kan? Shera balik bertanya.
         "Nyiksa? apa kami, maksudku dia juga tersiksa?"  Cinta menyesali perbuatannya.
"Iya, elo juga tersiksa kan? coba elo cerita ke nenek, pasti beliau ga akan setuju" Sovia berucap.
         "Semuanya tuh serba salah. sebenarnya salah dari awal" Cinta menutup muka dengan telapak tangannya.
"Salah? gak ada yang salah dengan yang namanya jatuh cinta" dengan bijak Shera berucap.
        "Dia, udah tau tentang perasaan gue, kemaren.. ah gak 3 bulan lalu hari dimana raport kita dibagi dan kita naik ke kelas XI, gue udah ngaku.." suara cinta melemas.
"Ngaku? kenapa gak cerita ke kita, cinta?" ada sedikit kecemasan dinada bicara Raisa.
        "Kita pasti bakal bantu elo, apapun itu masalah elo, kita sahabat" Shera mencoba menenangkan.
"Dan elo bisa lanjutin ceritanya dear" senyum Sovia bagai isyarat kalo semua akan baik-baik saja.

3 bulan yang lalu.

"Dion" panggil Cinta memberanikan diri.
         "Cinta, ada apa? tumben?" terlihat jelas ada kecanggungan dijawaban Dion.
"Udah lama ya, kita gak ngobrol kaya gini" Cinta mmebuka pembicaraan.
         "Iya sejak kamu tiba-tiba menjauh. Aku ada salah ke kamu?" pertanyaan Dion malah justru membuat Cinta semakin merasa bersalah dan membuatnya tertunduk.
          "Oh iya selamat atas kenaikan kelas kita hari ini ya" Dion tersenyum.
"Dion, maaf. maaf kalo aku baru aja bisa bilang ke kamu, maaf juga aku gak bisa bicara sendiri dan cuman lewat surat ini aku bisa jelasin ke kamu" Cinta memberikan amlop biru ditangannya dan disambut oleh Dion.

"Cinta,aku.."

Cinta menceritakan kejadian 3 bulan lalu secara detail, berbagai macam tanggapan dan reaksi dikeluarkan oleh ketiga sahabatnya, sedikit memberi keringanan dibenak Cinta. Ia sudah tidak tahan untuk berteriak, haruskah jauh dari seseorang yang ia suka? tidak ada larangan kita tidak boleh berteman dengan orang yang kita suka kan? Haruskah menjauh tapi yang bersangkutan merasa sakit dan tertekan? penyesalan demi penyesalan mulai dirasakan Cinta. Andai bisa memilih ia tidak ingin merasakan 'cinya' itu kepada temannya sendiri, hubungan yang sudah dibangun terlebih dahulu dengan baik, cinta belum berani untuk merubah itu, ia takut Dion akan berubah tapi sebenarnya malah ia yang berubah dan menjauh bahkan setelah memberikan surat itu, cinta selalu menghindar saat berpapasan dikoridor sekolah dengan Dion, walau tak jarang ia menyadari Dion memanggilnya dan bahkan pernah mengikutinya dari belakang. Apa yang didapat Cinta? ia malah membuat Dion tidak nyaman dengan perasannya.

*di ruang kelas.
          
         "Dion, kenalin gue Sovie temennya cinta, elo temen sekelas dia kan dulu?"
"Iya gue kenal elo kok, gak kenal sih cuman gue tau nama elo"
         "Bisa kita ngomong berdua? ada yang penting harus elo tahu"
"Kebetulan, gue juga ada yang disampaikan ke elo"


Sudah 2 minggu semenjak Cinta bertemu Dion dan 2 minggu terlewati membuat cinta bisa terlihat ceria seperti sedia kala, nenek nya sudah pulang ke Bandung. Ia dan Bagas berjanji tidak akan bertengkar saat dimeja makan atau berucap ksar satu sama lain walau itu hanya candaan bagi mereka, semua itu hal hal kecil yang bisa menghibur cinta. Ia tak henti-henti nya mengcek arloji berwarna biru yang terlingkar manis dipergelangan tangannya, ia menunggu seseorang.

"Halo Sa, kok elo belum datang sih gue sendiri nih.." ucap cinta ditelepon
       "Sorry gue gak bisa datang beb, mamah pengen ditemenin belanja" jawab Raisa diseberang sana.
"Elo janjian ya sama Shera dia juga bilang mau nemenin mamahnya ke salon"
       "Stop beb, dont judge. Elo duduk manis aja nunggu Shovie pasti ada suprise buat elo hihi"
"Wait, surprise? what happen?"
       "Apaan sih lo cin, ga ada pantas2nya ngomong englis lo pikir cinta laura. wkwk"
"Ehh iya bener sama-sama cinta ya"
       "Yah dia belagak lupa ingatan, yaudah siihh babay ya udah dipanggil nih, iya ma tunggu" dan sambungan telepon dari Raisa pun terputus.

Kembali cinta tersandar disana, dibawah pohon besar dan rindang cuaca sore itu sejak bahkan dari tempatnya duduk cinta bisa memandang luas langit biru dengan awan putih yang sangat indah, ingin ia merebahkan badannya dihamparan rumput hijau ditaman itu, tapi ia ingat sebentar lagi Shovie datang dan akan membuat kenyamanannya itu terusik.

"Daripada setengah-setengah mending gausah sama sekali" ujar Cinta kesar setengah berteriak.

       "Kalo ada orang disini selain aku pasti mereka kabur deh.." asal suara itu membuat cinta terusik.
"Kamu.. kok kamu ada disin?" tanya cinta masih tidak percaya.
        "Kenapa ya, mungkin takdir" ia kembali tersenyum membuat cinta tertunduk.
"Cinta, kamu gak marah kan?"
         "Ya enggak lah, kenapa harus marah ke kamu, malah aku.." cinta menggantung kalimatnya.
"Coba arahin pandangan kamu ke depan" bagai diperintah, cinta pun mengikutinya.
         "Kamu bawa bunga itu?" andai cinta bbisa bercermin pasti sekarang mukanya memerah.
"Iya, dulu kamu suka banget kan sama bunga matahari, hmm hamtaro?" tanyanya.
         "Iya dion, semua berlanjut sampai sekarang" kali ini cinta tersenyum.
"Kalo apa yang kamu suka gak gampang berubah, apa perasaan kamu juga gitu?" bagai tersambar petir badan cinta terasa membeku.

         "Seharusnya aku yang minta maaf bukan kamu cinta, kamu gak salah kamu banyak berkorban buat aku, maaf lagi kalo ngomong sama kamu gabisa santai pakai 'gue-elo' harus aku kamu"

"Iya ya aneh, dari dulu kita selalu ngomong sopan satu sama lain, bukan karena gak nyaman tapi karna ingin menghargai satu sama lain"

        "Apa dari dulu kamu gak sadar tentang kecanggungan ini? siapa yang lebih dulu punya perasaan?"

"Perasaan?"
        "Iya. seandainya aku bisa jujur lebih awal, pasti kita ga akan jauh kaya sekarang, kamu gak akan merasa bersalah karma kasih amplop ini ke aku 3 bulan lalu"

"Tunggu, aku gak ngerti apa maksud kamu on"
        "Aku udah denger alasan kamu menjauh dari temen-temen kamu, jangan salahin mereka, mereka pengen sahabat mereka gak terus-terusan merasa berdalah"

"Jadi ini semua rencana mereka? 2 alasan ada acara satunya ga ada kabar, awas aja mereka"
       "Tapi kamu sayang kan ke mereka, ngaku ajadeh'
"Iyalah walaupun mereka jail suka bikin bete tapi mereka selalu kasih kejutan yang bener-bener mengejutkan buat aku, ah ini suprise yang dibilang shera tadi"

        "Aku suka kamu cinta, dari dulu,, kalimat itu yang mau aku kamu dengar dihari kamu ngasih amplop itu  tapi kamu malah pergi jauh, dan bodohnya aku terlalu takut buat ngejar kamu. aku takut kamu marah kalo nyatain ke kamu, tapi setelah baca surat itu malah aku yang nyesel kenapa gak bilang duluan"

"Terus kenapa kamu gak balas? suratnya"
         
         "Kapan aku bisa kasih kalo tiap ketemu orang itu selalu kabur?"

"Oke aku yang salah, atau kita yang salah?"

         "Kayanya elo sama elo yang salah, ya gak girls?" ucapan Shovie membuat Cinta dan Dion terkejut.
"Iyaa benerrr" jawab Shera dan Raisa nyaris bersamaan.
         "Kalian sengaja ngerjain gue yaa ahh kenapa gak bilang?" protes Cinta
"Kalo bilang kan bukan suprise namanya CINTA. duh kebangetan deh" jawab Shovie
         "Yaudah silahkan lanjutkan, kami sih hanya penonton hehe" ledek Shera.

 [Terima kasih buat CINTA, karena dia udah bikin gue berani buat bilang sayang walau sedikit terlambat, karena dia jadi motivasi gue buat semakin mengembangkan diri, gak takut berada diantara orang banyak, masa MOS dulu dia yang buat gue semangat, bertemu seseorang yang bisa ngerti dan punya kesamaan sama kita itu susah, jadi sekali kita nemuin soulmate, jagalah orang itu selalu. Karna aku mencintai kamu, CINTA tolong jangan anggap aku orang lain lagi, jangan lari dan jangan menjauh lagi]


"Itu balasan suratnya? katanya gak bisa ngomong gue elo, tapi dalam tulisan bisa huhu"
        "Iya kan aku belajar dari kamu"
"Eh jangan asik berdua ajadong bantu kita dong bikin kue nya" teriak Shera.
       "Ambilin itu piring cin" teriak Shovie dari jauh.
"Oke bos" jawab Cinta.
       "Suruh Dion buat bersihin piring dan gelas nya cinta, cepet" Raisa tak mau kalah.


   




 









0 komentar:

Posting Komentar

 

Be your self~ Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting