Sabtu, 21 Maret 2015

Papan Penanda Isi hati

Diposting oleh Vina Rizky di 02.38

Cerpen yang terinspirasi dari sebuah lagu JKT48 -Papan Penanda Isi Hati :)

Pagi yang cerah.. kuliah pagi sudah biasa bagi Vinka, ia tengah asik mendengarkan lagu di Handphone nya dengan earphone seperti hari-hari lainnya. Langkahnnya terasa ringan tidak ada hambatan untuk menuju kelas tapi saat berada di depan kelas sebuah degupan terasa di dadanya. Ada seseorang berada disana tepat di depan pintu kelas, ia tengah asik dengan handphone nya duduk disalah satu bangku. Sebelum orang itu menyadari tingkah aneh Vinka atau pun ekspresi terkejutnya ia pun segera melepas sepatu menuju rak dan duduk dibangku yang biasa di dudukinya. Masih asik dengan lagu yang ia dengarkan Vinka juga memiliki aktivitas lain yaitu memandang lurus dari tempatnya duduk persis ke depan pintu, ya tanpa Vinka sadari ia selalu melakukan hal itu setiap kali orang lain tidak menyadarinya, ya cukup teman-teman nya yang tahu. Ada kegiatan lagi pagi itu kegiatan rutin yaitu membersihkan taman kampus. perkelas dibagi untuk membersihkannya, Vinka dan teman-temannya terlihat menuju taman segera melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
“Ahh ada Chase..” ucap salah satu teman Vinka.
            “Iya lah ada dia, dia kan temen sekelas kita” jawab Vinka santai
“Tapi dia berjalan dan menuju kesini Vin..” pekik temannya lagi.
            “Hah?” Vinka tersentak tanpa Ia sadari. Padahal teman-temannya hanya bercanda.
Vinka kembali mencabuti rumput liar, Chase memang ada disana tapi bukan berjalan menuju ke arahnya tapi disana, ditempat itu.. bersama yang lain. Yang lain yang gak seharusnya untuk Vinka bergabung. Terbersit satu harapan dihati Vinka hanya 5 detik andai Chase sadar ada dirinya disana, melihat ke arahnya, walaupun jika mata mereka bertemu pun tidak akan ada kata-kata yang terucap. Tapi deng… Chase melihat ke arahnya.. Vinka sangat terkejut dan langsung menundukkan kepalanya kembali sibuk dengan rumput liarnya.

               "Vin rumputnya sudah? Buang kesini aja kebetelulan ada plastiknya” ucapnya
“Ahh iya sebentar..” Vinka memungut tumpukan rumput itu dan memasukkan ke plastik.
Dan apa yang terjadi.. vinka tidak habis pikir yang ia pikirkan tadi menjadi kenyataan? Chase menoleh kearahnya menghampirinya dan mengambil tumpukan rumput liar.. apapun itu bagi Vinka sudah cukup membuatnya senang dan akan mengingat hal itu seharian penuh.
“Yoss semangat” teriak Vinka ditengah keramaian membuat orang sekitar menoleh ke arahnya.
            Selesai bersih-bersih semua kembali ke kelas masing-masing menjalankan mata kuliah seperti biasa. Berinteraksi dengan yang lain, mengerkan tugas, membagi kelompol tanpa terasa sudah seharian kegiatan itu berlangsung. Lonceng tanda pelajaran selesai sudah berbunyi. Semua murid merapikan buku dan perlengkapan mereka memasukkan dalam tas lalu bersiap untuk pulang. Sore itu karena harus melakukan piket Vinka terlambat pulang dari yang lain, setelah membersihkan meja dan tempat duduk ia menghapus papan tulis dan setelah selesai ia kaget masih ada orang di kelas. Dengan sikap biasa ia berjalan ke arah rak sepatu mengambil sepatunya, tapi disana ada orang itu.. sekilas mata mereka bertemu tapi Vinka hanya berlalu dan mengambil sepatunya. Setelah itu Chase keluar kelas dan menuju parkiran.
“Lalu apa.. kenapa dia berada di dekat rak sepatu menghalangi pandanganku.. dan tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.. alasannya apa? Ahh aku tidak tau” pertanyaan itu terus berlarian dikepala Vinka membuatnya semakin bingung dengan perasaannya juga Chase.
Hal kemarin tidak lupa ia ceritakan kepada 2 temannya.. secara rinci Vinka menceritakan dan berharap ada satu kesimpulan yang Ia dapat..
“Jadi dia menunggu kamu selesai piket?” Tanya Aura                        
            “Sungguh?” Vinka terlihat antusias.
“Aku kan bertanya…” sanggah Aura
            “Tapi kalau tidak ada keperluan untuk apa dia masih dikelas?” kembali Retha menambahkan pertanyaan.
“Itu sebabnya aku bertanya.. untuk apa dia disana? Masa iya nunggu aku selesai” tambah Vinka.
            “Itu pasti harapan Vinka. Haha” ucap Aura
Belum ada kesimpulan.. kenapa Chase sore itu masih disana. Vinka sudah lama kagum pada Chase, menurutnya pribadi lelaki itu baik, cukup baik untuk membuat Vinka terpesona. Dia selalu tersenyum kapanpun saat Vinka ingin melihatnya, selalu ada saat Vinka merindukannya atau ingin bertemu selalu membuat Vinka semangat. Awalnya ia mengira itu hanya perasaan kagum tapi semua berubah saat Vinka merasa aneh dengan hatinya. Kenapa jantungnya jadi berdegup cepat saat Chase mengajaknya bicara tiba-tiba atau membahas hal lain. Vinka bisa memikirkan berkali-kali alasan orang itu mengajaknya bicara padahal menyapa atau mengajak bicara itu hal wajar, tapi itulah tahap awal Vinka tau ada yang salah. Mungkin perasaan kagum itu berubah jadi suka, ya suka juga bisa kepada siapa saja. Awalnya ia merasa biasa dan membiarkannya karena menyukai itu manusiawi. 
Saat istirahat Vinka dengan Aura juga Retha ke kelas lain untuk bertanya tentang materi salah satu materi kuliah mereka, di luar kelas banyak pot-pot dengan berbagai macam jenis bunga ditambah ada kertas bertulisan yang direkatkan pada batang pohon kecil ditancapkan dalam pot. Isinya beragam ada harapan agar bunga tumbuh subur, ada juga harapan pribadi si pemilik dan kemajuan untuk kampus. Vinka suka dengan konsep itu, cukup unik dan terbilang baru.
                  Sore harinya, kegiatan untuk rencana festival dilaksanakan. Semuanya wajib datang untuk membicarakan konsep kelas masing-masing tak terkecuali kelas Vinka. Sebagai mahasiswi yang baik tentu Vinka datang dan mendengarkan apa yang disampaikan juga diarahkan oleh ketua kelas. Tema festivalnya adalah ‘Harapan’ banyak saran yang masuk untuk konsep kelas, sampai dimana Vinka ingat sesuatu dan tanpa sadar mengangkat tangan untuk memberikan usul.
“Bagaimana kalau tema kelas kita menyampaikan harapan dari masing-masing individu? Memakai papan harapan? Jadi setiap orang mempunyai papannya sendiri. Bisa kita buat dari karton warna coklat yang direkatkan di satu benda panjang menyerupai tongkat? Isi papannya adalah harapan kita masing-masing bisa apa saja sesuai keinginan kita”
Awalnya hening, mungkin yang lain masih mencerna apa yang diusulkan Vinka, setelah beberapa saat ada yang mengatakan iya.
               “Menurutku usul Vinka cukup masuk akal karena temanya Harapan bagaimana kalau kita menyampaikan apa harapan kita masing-masing di festival nanti? Cukup unik dan fresh”
Ketua kelas menimbang-nimbang usulan serta pendapat yang lain.. dan akhirnya semua setuju dengan usul Vinka. Untuk dekorasi kelas mereka memutuskan mengumpulkan semua foto-foto kebersamaan mereka selama di kampus dalam kegiatan belajar ataupun hal lain selama itu dilakukan di kampus. setelah dikumpulkan lalu ditempel di dinding kelas tidak lupa mereka juga menuliskan harapan mereka tentang kampus serta kesan-kesan selama berada disana. Karena untuk kostum disamakan jadi mereka tidak pusing lagi mencari untuk dipakai nanti.
“Kamu dapat ide dari mana?” Tanya Chase tiba-tiba
            “Soal papan? Waktu ke kelas A gak sengaja melihat pot bunga mereka, bunga nya beragam tapi ada tulisan disana, berbentuk papan juga tapi dalam bentuk mini kayanya. Dan entah kenapa langsung terpikir mengusulkan itu kemarin. Hehe” jawab Vinka
“Oh.. tapi bagus. Inspirasi dari melihat kecil jadi hal yang berguna untuk yang lain” sambung chase.
            “Ah iyaa terima kasih..” hanya itu yang bisa vinka ucap.
Setelah 3 hari berlalu.. festival dimulai. Banyak kegiatan lomba juga stand-stand mulai dari makanan,minuman,pernak-pernik,bahkan ada rumah hantu juga dari kelas lain yang kreatif. Untuk kelas Vinka mereka menawarkan cake lucu juga minuman dingin di stand mereka, sebagian menjaga stand sebagian juga menjaga kelas. Setiap tahunnya festival dilaksanakan juga dibuka untuk umum tanpa pungutan biaya. Banyak orang-orang yang datang ke acara itu, dikelas selain memajang foto kebersamaan Vinka dan yang lain juga menyediakan kertas dan pulpen untuk pengunjung menyampaikan apa saja harapan mereka. Semua harapan itu akan ditempel di papan yang sudah mereka siapkan. Pengunjung keliatan senang dengan itu. Vinka melirik papan harapan miliknya ada 2 kertas berlapis disana. Sebuah harapan formal juga harapan pribadinya. Ia ragu dengan kemauan pribadinya sehingga yang ia pajang hanya harapan tentang study dan orang sekitarnya. Acara puncak akan diadakan di lapangan dimana akan ada pemotongan pita oleh kepala yayasan serta dosen dengan berlangsungnya festival tahun ini. Juga ada sambutan dari para dosen. Setelah dosen memberikan sambutan juga harapannya dilanjutkan dengan acara hiburan. Ada pertunjukan band,drama musical,tari,musikalisasi puisi,ada juga aksi bela diri. Saat acara hiburan dimulai kelas Vinka sepakat membawa papan harapan mereka tanda bahwa itulah harapan mereka konsep dari kelas mereka. Dari kelas lain pun banyak yang memakai ide lain hari itu sangat indah ditutup semua kelas memamerkan konsep mereka masing-masing.
“Kamu gak mau mengungkapkan perasaanmu Vin?” Tanya Aura
            “Perasaan? Tema hari ini kan harapan aura..” jawab Vinka
“Iya harapan kamu, tentang perasaanmu ke chase” tambah Retha meyakinkan
            “Aku tidak punya harapan…” Vinka menjawab ragu-ragu
Vinka berjalan ke tepi panggung di stand yang menjual cake, ya stand kelas mereka. Ia ingin makan sesuatu, perutnya terasa perih karena tidak ada makanan yang masuk selain menu sarapannya. Cake yang mereka jual sangat lucu, kecil tapi terasa manis bisa mengganjal perut yang lapar. Banyak cake yang diambil Vinka, tidak ada orang disana. Vinka mendekati meja kasir dan berniat meninggalkan uang disana, tapi ternyata disamping meja kasir ada seseorang yang sedang menulis diatas papan harapannya.
“Chase.?”ucap vinka pelan.
            “Ah vinka. kamu pasti mau bayar cake nya? Gak usah itu gratis untuk kelas” ucapnya tenang.
“Ahh maaf aku kurang tau makanya tadi mau bayar kesini” vinka terlihat menyesal.
            “Papan harapanku” chase menunjukkan tulisannya.
“Terima kasih atas sarannya sangat membantu, terima kasih juga membuat hari-hari ku berwarna… chase itu terlihat seperti pengakuan bukan harapan” ucap Vinka.
            “Vinka, terima kasih. Ini untuk kamu, tulisan ini. Harapan nya bukan ditulisan tapi harapannya adalah supaya kamu tau.. mungkin sulit kalau harus langsung diucapkan jadi lebih baik ditulis. Ini juga berkat saran kamu. Papan harapan” sekali lagi. Sekali lagi dia tersenyum kali ini langsung didepan Vinka. gadis itu kehabisan kata-kata, apa ini yang diinginkannya? Ia tidak pernah punya harapan seperti itu, harapan sesungguhnya belum tentu yang tertulis tapi adalah keinginan agar orang tau dan mengerti apa maksud dari tulisan kita.
Vinka dan Chase kembali ke lapangan, hampir semuanya merubah papan harapan mereka dengan hastag #IHope mereka semua berharap.. harapan kedua mereka selain harapan yang sebelumnya. Baru vinka sadar harapan itu bukan hanya satu tapi dua atau bahkan lebih tinggal kapan kita mau mengungkapkannya dan agar semua orang tau apa harapan kita yang lain.
“Vin, kayanya udah saatnya kamu menunjukkan harapan lain kamu” saran Aura.
            “Reth aku minjam spidol ya.. maaf” Vinka mengambil spidol yang ditangan Retha dan menulis sesuatu di papan harapannya.
“Ahh Ra coba liat.. vinka.. dia menulis itu” Retha menggoyangkan lengan Aura agar melihat kea rah Vinka.
Chase yang berada disana juga sangat terkejut dengan tulisan Vinka, tapi kenapa rasa senang lebih memenuhi pikirannya?
            “Makasih juga chase.. sangat.. terima kasih. Sebenarnya harapan ku juga mau kamu tau…”
Vinka menunjukkan papan harapannya yang lebih cocok disebut papan penanda isi hati, tanpa sepengetahuan orang lain banyak harapan yang ditulis oleh chase. Mungkin salah satu harapannya adalah yang ingin dibaca oleh Vinka


0 komentar:

Posting Komentar

 

Be your self~ Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting