Hachiken Yuugo (Nakajima Kento) memasuki semester
pertamanya di SMK Ezo yang memusatkan jurusan peternakan dimana muridnya
rata-rata memang memiliki peternakan dan setelah lulus akan melanjutkan usaha
keluarganya itu, berbeda dengan Hachiken orangtua nya bekerja kantoran bahkan
ia bersekolah di SMP favorit. Saat tiba memperkenalkan diri dikelas Hachiken
teringat saat SMP ia tidak bisa menjawab salah satu soal, saat itu pula
temannya bertanya dan ia tidak bisa membantu membuat Hachiken semakin frustasi,
ia sudah berusaha keras tapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Dirumah,
ia menunjukkan buku tentang SMK Ezo, ibunya menjelaskan bahwa guru diSMP
hachiken yang merekomendasikan sekolah itu pada ayahnya, sang ayah terlihat
kecewa dan mengatakan mengapa harus di smk peternakan sangat jauh dengan
harapannya. Tapi Hachiken bersikeras ingin bersekolah disana.
Hachiken memperkenalkan diri,dimana asal SMPnya tapi
untuk melalukan apa saat lulus nanti ia belum bisa menjawabnya. Saat istirahat
ada ayam yang lepas dan hachiken terpaksa membantu saat kaka kelas menyuruhnya,
ayam tadi malah masuk ke toilet wanita setelah itu ada siswi wanita yang
membawakan ayam itu namanya Mikage Aki (Alice Hirose) disinilah awal perkenalan
Hachiken dan Aki, ternyata Ichiro Komaba (Tomohiro Ichikawa) teman hachiken
kenal dengan Aki karena mereka berada di SMP yang sama. Hachiken sempat pingsan
melihat ayam yang tadi ia tangkap disembelih dihadapannya, komaba berkata
karena ayam itu tidak bisa bertelur jadilah dipotong. Keesokan paginya hachiken
yang belum terbiasa bangun pagi harus dibangunkan beberapa kali oleh teman
sekamarnya, sebenarnya alasan Hachiken masuk sekolah itu agar keluar dari rumah
dan berasrama disana. Di sekolah murid diajarkan membersihkan dan merawat hewan
ternak, ada babi,ayam,sapi,kuda. Hachiken memberi nama seekor anak babi yang
baru lahir dengan nama butadon, salah satu temannya mengatakan jangan melakukan
hal spesial pada hewan ternak karena hasilnya akan sama hewan itu akan dimakan.
Hachiken mulai dekat dengan Aki,bahkan ia memasuki ekskul yang sama yaitu
menunggang kuda. Ternyata paman aki mempunyai kuda dan sering ikut lomba, jadi
aki sudah akrab dengan kuda. Hachiken diajak aki menonton pacuan kuda, balapan
ban’ei. Dimana kuda menarik kereta yang ada si penunggangnya, mereka tidak
berdua juga ada Komaba.
Liburan musim panas dimulai karna hachiken tidak
pulang kerumah Aki mengajak untuk menginap dirumahnya sekaligus meminta
hachiken mengurus ternak dirumahnya. Selama disana hachiken membantu sebisanya
walau banyak hal terjadi dan ia melakukan kesalahan, keluarga Aki memakluminya
dan malah bersikap baik pada Hachiken, ia merasakan hangatnya sebuah keluarga
disana. Karena usahanya hachiken diberikan gaji, sebenarnya ia sudah menolak
tapi ayah Aki bilang itu hasil dari kerja kerasanya dan ia harus menerimanya.
Singkat cerita, sekolah kembali masuk dan sudah waktunya butadon untuk
dipotong, babi yang dari kecil dirawat Hachiken tentu ada perasaan sedih tapi
itu sudahlah hachiken mencoba menerima dan ia mengatakan akan membeli daging
butadon nanti. Saat menunggangi kuda, hachiken masih terlihat sedih dan aki
menyemangatinya, esok harinya daging butadon sudah datang, ia membeli dengan
uang hasil gajinya, kemudian minta ajari kakak kelasnya cara membuat daging
asap. Hachiken memanggang disekolah dan membagikan daging butadon untuk semua
yang ada disekolah, ada juga sumbangan sayur dan nasi
dari jurusan pertanian, semua terlihat bahagia saat memasak bersama.
Hachiken menyadari hewan ternak memang untuk
dimakan, dan ia merelakan butadon. Karena nasihat Aki juga akhirnya Hachiken
mengirim paket ke rumah orangtuanya, mungkin itu daging butadon yang belum
dimasak. Tapi kemana komaba? Hachiken mencari karena komaba pernah berkata akan
memakan daging butadon juga. Ternyata komaba berhenti sekolah karena
peternakannya disita, keluarganya belum bisa melunasi hutang, dan keluarga Aki
sebagai penjamin juga merasa resah dengan hal itu, tapi Aki dia masih ingin
sekolah dan berusaha. Hachiken memutuskan berkunjung kerumah Komaba dan membawakan
daging butadon, ia juga menyuruh agar komaba datang ke festival sekolah karena
ekskul penunggang kuda agar melalukan lomba ban’ei dan Aki yang akan ikut
dengan kudanya yang bernama King. Hachiken yang meminta izin pada kepala
sekolah dan guru, akhirnya hachiken dan juga anggota ekskulnya yang menyediakan
tempatnya sendiri dilapangan mulai dari mencabut rumput,mengumpulkan tanah
hingga sama persis dengan tempat pacuan kuda, ada saat aku terharu melihat saat
siswa dari ekskul lain membantu Hachiken mereka mengatakan untuk membayar
daging asap yang diberi oleh Hachiken
Selain SMK Ezo sendiri, lomba itu juga diikuti oleh
sekolah lain. Semua mendukung Aki, tanpa ada yang menyadari kedua orangtua
Hachiken datang, tapi sayang mereka gak ketemu disana padahal pengen liat
gimana reaksi ayah nya liat Hachiken sekarang. Seperti harapan semua orang, Aki
berhasil menang menjadi juara 1 dan semua itu berkat Hachiken menurut
teman-temannya. Komaba pindah dan mulai mencari pekerjaan serta memulai
lembaran baru dengan keluarganya setelah peternakan mereka disita. Smk ezo pun
menerima murid baru, yang artinya murid seangkatan Hachiken sudah naik kelas
dan akhirnya Aki pun rajin mengikuti lomba ban’ei walau sebelumnya harus
melepas King yang dijual, aki menemukan semangatnya lagi karena dukungan
hachiken,
seperti filosofi silver spoon (gin no saji) di Smk
Ezo, sendok perak yang artinya menurut budaya barat, kalau bayi yang baru lahir
diberi sendok perak maka ia tidak akan kelaparan.”Jika dapat makan walau dalam
keadaan susah, maka keluarga petani dan peternak lahir membawa sendok perak”
Dan komaba datang pada pertandingan Aki hari itu,
setelah sekian lama komaba akhirnya bertemu Hachiken lagi, yang awalnya tidak
memiliki impian dan tujuan malah ia yang member semangat dan motivasi untuk
semua orang.
















0 komentar:
Posting Komentar