Selasa, 12 Agustus 2014

49 Days.

Diposting oleh Vina Rizky di 17.40

               Hari yang berat bagi Mio, ia harus kembali ke sekolah memgambil beberapa buku yang tertinggal di laci mejanya. Padahal dihari yang sama ia harus segera mendaftar di universitas yang diinginkannya. Mio baru saja menyelesaikan study nya di SMA, tapi ia masih sering ke sekolahnya itu sekedar menikmati layanan wifi gratis, baginya menghabiskan waktu di taman sambil menikmati layanan gratis itu jauh lebih menyenangkan daripada dirumah dengan tumpukan buku yang diberikan orangtuanya, Mio tau itu untuk kebaikannya jadi ia mulai membagi waktu antara hobi dan waktunya bermain juga waktu untuknya membaca buku panduan menjawab soal untuk masuk universitas.
“Mio, kamu rajin ya ke sekolah” teguran itu mengagetkan Mio yang bergegas ke kelasnya.
            “Iya ada barang yang ketinggalan pak, jadi saya ke sekolah hehehe kelas dibuka kan?” tanyanya pada penjaga sekolah yang bertugas memegang kunci kelas.
“Wah baru saja bapak kunci, setelah kelas XI pulang sehabis ulangan tadi yasudah ini kamu buka sendiri saja ya” Pak Iwan menyerahkan kunci kelas Mio.
            “Sip pak nanti saya antar deh ke bapak, ditempat biasa kan?” Mio hormat dengan penuh semangat, dan pak Iwan hanya menggelengkan kepalanya.
Mio membuka pintu kelas, kelasnya itu masih sama seperti sebelum ia lulus, masih ada beberapa kertas berserakan akibat ulah penghuninya, malah Mio ingat hari itu harusnya tugasnya menyapu tapi ia tidak melakukannya, jadi kertas itu masih ada, Mio tersenyum mengingatnya. Meja mereka masih berada ditempat yang sama papan tulis pun walau sudah putih bersih di sisi-sisi bagian atas masih terlihat samar-samar tulisan yang menyemangati agar UN tahun ini lancar dan semuanya lulus 100%, terlalu banyak kenangan disana membuat Mio lupa alasan utamanya ke sekolah. Saat sadar ia pun menuju mejanya dan melihat lacinya, buku-buku itu masih tersimpan rapi disana, mio mengambilnya dan bergegas keluar mengunci pintunya kembali dan menuju tempat tongkrongan pak iwan, beliau biasanya disaat senggang duduk dibangku yang dilindungi dedaunan pohon rindang sambil menikmati sate pak Seto.
“Pagiii pak Seto, semangat kali ngipasinnya” ucap Mio nyaring membuat yang dipanggil terkejut.
            “Mio, kau ini mengangetkan bapak saja taiyeee” dan hal itu ditanggapi senyum iseng oleh Mio.
“Hehe saya hari ini absen pak makan sate nya, abis ini ada schedule penting” ucap Mio bangga.
            “Gimana Mio udah ketemu barangnya?” tanya pak Iwan
“Udah dong pak, ini kuncinya makasih ya pak bantuannya dan buat pak Seto abis ini saya mau daftar diuniv favorit saya doain keterima ya hehe” Mio minta doa dan restu.
            “Wah pasti dong kan kamu pelanggan setia bapak, yakan Wan?” pak Seto berharap CS.an nya itu menyetujui ucapannya.
            “Iya benar haha sukses ya Mio” setelah ucapan Pak Iwan itu, Mio pun permisi dan bergegas menuju tempat pendaftaran.


Chapter 1: Semangat Mio, kamu pasti bisa….
 
“Udah telat? Gak kan? Duhhh” tanya Mio pada dirinya sendiri.
            “Mio, ayoo cepet sini ambil formulirnya” Risa memanggilnya.
“Ah Risa untung ada kamu, yaudah ini di isi kan?” Mio mengambil formulir.
            “Yaudah kita duduk disana aja biar lebih santai ngobrolnya haha” Risa dan Mio menuju meja dipojok belakang.
“Abis dari sekolah?” tanya Risa
            “Iya ngambil buku yang ketinggalan terus juga katanya Sho mau minjam haha jadi semangat deh” Mio bercerita sambil mengisi formulirnya.
“Jadi demi sho? Emang dia perlu buku apa?”
            “Kok nadanya gitu sih Sa, harusnya seneng dong sahabatnya ada kemajuan hehe iya sho minjam buku kumpulan penjelasan soal akutansi, entahlah dia mau masuk univ mana”
“Dia aja gak bilang ngapain kamu repot-repot sih baby? Jangan terlalu baik ah”
            “Emang aku terlalu baik ya? Masa sih kan aku bantu dia sebagai temen”
“Yaudah si aku males bahas sho, udah formulirnya?”
            “Dikit lagi nulis alamat rumah nih, abis itu dikasih kemana?”
“Ke meja 4 sekalian bawa persyaratannya dalam map, tunggu bentar lalu dikasih kartu peserta”
            “Okesipp beby. Abis ini makan ice cream yuk gimana?”
“Nyogok nih ceritanya?”
            “Menurut elo? Haha yaudah jangan manyun gitu, bentar aku ngasih ini dulu”

Setelah menyelesaikan urusan pendaftaran, Mio dan Risa pergi ke kedai ice cream langganan mereka semasa SMA, bahkan pelayan disana saat melihat mereka sudah tau rasa ice cream apa yang akan mereka pesan. Mio tersenyum sendiri melihat handphone nya, ada pesan semangat dari seseorang ‘semangat mio kamu pasti bisa’ begitu isinya, cukup seperti itu saja sudah membuat Mio bahagia, ia tidak ingin terlalu banyak berharap dan meminta, cukup Sho menanggapnya teman yang bisa diandalkan, Mio sudah senang karena berarti dia bisa dekat dengan cowok yang disukainya itu.
“Mio, kamu duluan ke meja ya aku mau ke toilet dulu” ucap Risa & dibalas anggukan oleh Mio. Mio menuju meja yang biasa mereka tempati, tapi ternyata sudah ada pelanggan yang duduk, Mio melihat ke sekelilingnya, semua meja penuh hanya ada meja itu dan walau ragu ia mencoba meminta pada pelanggan itu agar ia dan Risa boleh duduk disana.
“Permisi mas, saya boleh duduk disini? Soalnya meja yang lain penuh sih” tanya Mio sopan dan saat orang itu memalingkan wajahnya, seperkian detik Mio terdiam.
            “Mio.. ah boleh kok itu juga kalo kamu gak keberatan semeja dengan ku” jawabnya.
“Mio, ah sudah ada pelanggan lain?” pertanyaan Risa membuyarkan lamunan Mio.
            “Ah iya kita gabung disini aja ya. Gapapa kok lagian ini Ken, temen SMP ku” jelas Mio.
“Ohh gitu, kalo temen Mio berarti temen ku juga, kenalin Risa” ia mengulurkan tangan pada pria itu dan ia pun membalas sambil berkata “iya, Ken salam kenal ya”
Suasana disana awalnya aneh, tidak ada yang berbicara. Risa yang asik dengan ice cream nya tidak menyadari kecanggungan antara Mio dan Ken, sementara mereka berdua mencoba ikut fokus dengan ice creamnya, sampai Risa membuka suara.
“Oh iya Ken, pas SMP Mio gimana? Terkenal gak dikalangan cowo abisnya semasa SMA dia gak ada pacaran loh katanya masih suka ingat mantannya, kamu tau?” Risa bertanya secepat kereta api tanpa mampu distop oleh Mio.
            “Ah gimana ya, haruskah ku bongkar?” Ken menyunggingkan senyumnya, mungkin itu yang Mio rindukan sebelum bertemu Sho.
“Ah gak usah didengerin, Risa cuman asal bicara ajakok hehe yakan?” Mio memberikan isyarat pada sahabatnya itu.
            “Gak papa lah aku penasaran sama dia yang sering kamu ceritain itu, awww” teriakan itu karena Mio sengaja menginjak kaki Risa.
“Sorry, Risa orangnya emang suka gitu welcome banget ke orang jadi terkesan sok kenal gitu deh, btw kabar kamu baik kan?” Mio mencoba bersikap sewajarnya.
            “Iya gak papa kok, seneng aja kamu punya temen yang sayang dan baik ke kamu, jadi aku gak terlalu merasa bersalah” Ken mengucapkannya sambil tersenyum.
“Oh iya abis lulus nerusin kemana?” Mio memilih mengalihkan pembicaraan ia tak ingin larut dalam kenangan masa lalunya.
            “Rencanya jurusan seni. Sayang kan kebisaan main gitar gak dimanfaatkan?”
“Oh iya dulu kamu jago ya main gitar, sampai nyiptain lagu segala”
            “Mio, aku..”
“Mio, semua sudah ku bayar, kamu juga Ken anggap aja sebagai hadiah perkenalan ya ingat kalo ketemu dijalan jangan sok gak kenal okeeeee, yuk pulang capek nih”

Sesampainya dirumah dan memasuki kamarnya, Mio menghempaskan tubuhnya ke kasur ia rasa hari ini hari terpanjang dihidupnya, banyak kejutan. Pertama ia telat untuk mendaftar universitas karena harus mengambil beberapa buku dulu, mendapat pesan berisi semangat dari Sho dan finally setelah sekian lama ia bertemu dengan orang itu, Ken. Mantan pacarnya semasa SMP, cinta pertamanya dimasa putih biru, seseorang yang cukup menyita waktunya, bahkan setelah putus Mio masih suka mengingatnya dan setelah sekian lama itu ia mencoba melupakan Ken, saat hal itu sudah bisa dilupakannya malah keadaan membuat mereka bertemu lagi, dalam waktu yang menurut Mio tidak tepat, ditambah pertanyaan asal Risa yang jelas sekali tertuju untuk Ken, ia bingung bila ditanya bagaimana perasaanya untuk Ken, ia takut Ken akan berfikir selama ini ia terus memikirkannya, Mio tidak ingin menjadi beban bagi Ken ia sudah pergi jauh dan mencoba melupakan semuanya, ia tidak berharap bertemu Ken disaat seperti sekarang, saat ia mencoba menata hidupnya, saat ia yakin bahwa ia baru saja menyukai seorang teman laki-lakinya, yaitu Sho.
“Mio, kamu sudah pulang? Pintunya ku buka ya” seseorang masuk ke kamar Mio.
            “Ahh bang sota, kapan aku bolehin masuk?” protes adik kecilnya itu.
“Barusan siapa suruh bengong aja mikirin siapa dia apa dia?” ledek Sota.
            “Siapa? Emang ada pilihan? Aku punya pilihan?” tanya Mio polos.
“Adalah, antara Ken dan Sho. Iyakan? Apa jangan jangan Shin juga haha” Sota tertawa.
            “Hah apa-apaan Shin cuman sahabat dari kecil sampe sekarang kali” protes Mio lagi.
“Oke satu dah dicoret tinggal K or S? ayooooo” desak Sota.
            “Gak ah gak ada aku cuman suka Sho gak berharap lebih”
“Terus Ken? Diakan yang buat adik kecil gue galauu bertahun-tahun”
            “Ken.. ah bang bisa gak jangan memperumit keadaan?”
“Kamu ketemu dia ya? Ayo cerita cepeeeet” Sota mulai penasaran dan memaksa adiknya itu bercerita kepadanya.

Mio berhasil mengusir abang semata wayangnya yang tinggi bagaikan tiang listrik itu dari kamarnya entah dia dapat gen dari siapa dan darimana sehingga dapat tumbuh setinggi itu, dan hal itu cukup tidak penting untuk Mio pikirkan, makin membuat kepalanya pusing. Ia meraih ipod nya yang lama ia simpan didalam kotak kecil bersama semua barang-barang yang ada hubungannya dengan Ken, ia tak tau apakah ipod itu masih bisa berfungsi, ia hanya iseng menekan tombol tengahnya dan muncul lah semua playlist lagunya, ia bangun dari ranjang dan mengambil headset yang ia taruh di meja belajar ia pasang ditelinga mulai melihat playlist yang ada di ipod itu sampai terhenti di lagu yang berjudul “for you” lagu sederhana itu dinyanyikan menggunakan gitar acoustik hanya ada suara gitar yang mengiringi sang penyanyi mendendangkan lagunya, tidak ada bantuan alat musik lain. Lagu itu cukup membuat Mio tenang dan tanpa ia sadari ia telah memejamkan matanya dan mengingat semua kenangan tentang lagu itu
“Ahh apalagi ini kenapa harus telat dipelajaran Pak Sosmed” Mio mengutuki dirinya sendiri yang berdiri didepan pagar sambil memandangi gembok yang menguncinya.
            “Mio, kamu telat?” tanyanya. Mio takjub dan terdiam dalam waktu yang cukup lama.
“Sho, iya telat mana abis ini Pak Sosmed ngajar pelajaran tambahan lagi” ucapan itu terdengar menyedihkan bagi Sho, ia meraih kunci disaku celananya dan membuka gembok itu.
            “Loh, kok bisa kok? Kamu sekarang jad pemegang kunci ya?” tanya Mio takjub.
“Hah? Ya enggak lah kebetulan aja aku punya, tadi disuruh megangin ini sama pak satpamnya” jelas Sho.
            “Yaudah ayo masuk, dan ambil ini” Sho menyerahkan beberapa buku pada Mio.
Mereka berdua masuk ke kelas yang sudah ada penghuninya *yaiyalah kan ada murid nya* Pak Sosmed sudah berdiri hendak meneriaki Mio, sebelum itu Sho mengatakan bahwa Mio yang membantunya membawa buku-buku yang disuruh Pak Sosmed, makanya ia telat masuk. Alasan itu cukup terdengar masuk akal ditelinga Pak Sosmed, sehingga Mio lolos dari hukuman lari 2x lapangan sekolah. Padahal ini hanya pelajaran tambahan menuju jenjang berikutnya, program gratis dari sekolah yang dari tahun ke tahun diadakan dengan alasan agar siswa jauh lebih yakin dan mantap menuju universitas yang mereka inginkan.
“Makasih ya kamu udah bantuin aku” Mio membuka suaranya.
            “Oke gak papa kok kebetulan aja aku punya kuncinya” Sho memamerkan kuncinya.
“Sampai kapan kamu megang itu? Gak dibalikin?” tanya Mio bingung.
            “Dan masalahnya aku lupa balikin, yaudah ntar aja” Sho tidak ambil pusing.
“Oh iya ini bukunya, yang kamu pengen pinjam kemaren” Mio mengambil di dalam tasnya.
            “Makasih ya, oh ya gimana kemaren daftarnya? Lancar?”
“Hehehe iya tinggal nunggu tes tertulisnya aja sebulan lagi”
            “Lama ya”
“Iya tapi ada baiknya, waktu belajar jadi lebih banyak”
            “Oke yang pasti kamu harus semangat dong” kata-kata itu sangat membuat Mio senang, disemangati dan bisa dekat dengan seseorang ia sukai.

Mio sudah menunggu Shin dikantin selama beberapa menit, walau hanya beberapa menit ia sangat membenci yang namanya menunggu walau Shin sudah siap memberikan alasan sepanjang lembar apapun tetap Mio menolak mendengarnya, ia hanya sibuk memperhatikan detik demi detik pada arlojinya.
“Mio, sorry telat tadi….” Shin sudah siap menjelaskan.
            “Oke udah. Yuk cepetan kerumah keburu bang Sota pulang duluan” jawab Mio.
“Emang kenapa? Kalian lomba cepet-cepetan sampai kerumah ya?” Shin polos bertanya.
            “Gak lah, cumin males aja denger dia bawel blablabla” Mio menjelaskan.
“Eh serius nih gak mau denger alasan tadi aku telat?”
            “Emang kenapa? Kamu ketemu artiskah wowww sekelas siapa? Haha”
“Ini serius, lebih dari artis pasti kamu seneng sekaligus terkesima wahahaha”
            “Terus SHIN siapakah gerangan yang bikin diriku TERKESIMA?”
“Nakajima Kento”
“Hah nakajima? Plis deh gue pingsan disini nihhhhhhh”
            “Ya gak mungkin lah ngapain dia kesini, itu nemu kembarannya si Kentoto”
“Ken aja kali gak usah make toto segala”
            “Kok situ gak kaget sih. Ahh jangan-jangan..”
“Kemaren aku sama Risa beli ice cream ditempat biasa dan gak sengaja ketemu dia”
            “Terus?”
“Yaudah deh shin baik shin imut sekaligus bawel kita ceritanya sambil jalan ya”

Mio mulai menceritakan dari abc-z dari awal sampai akhir tentang pertemuannya dengan Ken pada Shin. Sahabatnya itu hanya manggut-manggut dan sesekali memberikan reaksi berlebihan yang membuat Mio tak bias menahan tawa gelinya, hari itu mereka berencana menghabiskan waktu dirumah Mio, bersama Risa juga tapi hanya Shin dan Mio yang dating bersama, Risa mengatakan ada urusan dan segera menyusul ke rumah Mio setelahnya. Sampai dirumah, ternyata abang Mio sudah sampai lebih dulu. Ia sedang duduk santai diteras rumah bersama kedua orang tua mereka.
“Tuhkan duluan gue sampai pasti elo curhat-curhatan dulu kan sama Shin?” Sota bangga.
            “Kok abang tau tadi Mio cerita tentang Ken? Aww sakit tau” Shin berteriak dengan polosnya merasa sakit karna kakinya sengaja diinjak oleh Mio.
“Apaan sih, nih gara-gara Shin lama banget ditungguin jadinya telat” Mio membela diri.
            “Yasudah kamu cepat masuk ganti baju terus makan ajak Shin juga” perintah ibunya.
“Wah halo om tante, saya lama gak kesini nih udah kangen makan masakan tante sama main catur sama om” Shin menyapa dan mencium kedua tangan orangtua Mio.
            “Kamu yang lama gak kesini, Sota gak bisa diajak main kalah mulu” ayahnya melirik kea rah Sota dan anaknya itu hanya menatap dengan tatapan kosong.
“Hahaha bang sota sih emang payah yah jagoan Shin wkwk” Mio merasa menang.
            “Halah kamu juga kalo bahas Ken pasti kalah wee” Sota melet-melet depan Mio.
“Rese deh, tuh Ma bang Sota bikin bête, yuk ah Shin cepet masuk” Mio menarik tangan Shin masuk kerumahnya.
            “Jadi abang elo udah tau mengenai Kentoto?” Shin berusaha bersikap serius.
“Yowaaa entahlah feelingnya kuat banget soal Ken” jawab Mio singkat.
            “Hmm mereka soulmate mungkin” ucapan Shin membuat Mio yang sedang minum tersedak.
“Jadi tadi kamu ketemu Ken, dia bilang apa?” Mio mulai serius bertanya.
            “Awalnya aku kaget, dia duduk ditempat biasa kita kumpul dulu ditoko persimpangan jalan sana, dia yang nyapa duluan, Cuma nanya gimana kabar dan ehmmm.. ini harus make pembawaan yang baik nih, kata dia gini ‘kelihatannya kamu baik Shin, terus bagaimana dengan sahabatmu itu kelihatannya dia sangat senang sekarang, dia lagi suka siapa? Gimana orangnya lebih keren gak dari aku? Jagain dia ya Shin’ yah gitulah katanya” Shin menceritakan sedetail-detailnya.
“Terus jawaban kamu?” desak Mio.
            “Ya aku jawab apa adanya lah, kataku… bentar hp ku bunyi ada sms, dari Risa katanya dia gak bias kesini ada urusan mendesak” ucap Shin dan Mio hanya terdiam.
Shin sudah pulang dari tadi sore, seharusnya sekarang waktu tidur untuk Mio tapi sedari tadi ia hanya fokus berpikir sambil memeluk guling, tentang ucapan Shin mengenai Ken, Risa yang tiba-tiba membatalkan janji mereka, entahlah Mio merasa semuanya berhubungan. Kenapa Ken kembali hadir dalam hidupnya, Shin juga Sota kenapa juga sahabat dan kakaknya itu seperti bersekongkol untuk kembali membahas Ken yang sudah 2 tahun lebih menghilang, seperti ada yang ia sembunyikan, tapi apa? Tentang perpisahan mereka kah? Atau ada alasan lain, semakin memikirkannya semakin Mio merindukan saat itu, sebegitu inginnya pun ia kembali, hal itu sudah berlalu dan sekarang apa tidak cukup dengan Sho? Ia sudah mulai menyukai lelaki itu, walau baru beberapa bulan ia merasa Sho lah yang membantunya melupakan Ken, tanpa harus membenci laki-laki yang dulu dicintainya itu. Sementara Sho ia tak tau bagaima perasaan orang itu, ia hanya merasa dengan menyukainya sudah cukup, tapi sulit bagi Mio melihat Sho dengan gadis lain, kadang ada perasaan aneh dihatinya, kadang ia juga ingin banyak menghabiskan waktu bersama Sho.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Las Vegas' Wynn Casino - JTM Hub
Casino. Wynn is a goyangfc $4 billion resort with four hotel towers with 5,750 rooms and suites. Each www.jtmhub.com of the hotel towers includes a gri-go.com 20,000 casinosites.one square foot poormansguidetocasinogambling casino and a

Posting Komentar

 

Be your self~ Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting