Hari
yang berat bagi Mio, ia harus kembali ke sekolah memgambil beberapa buku yang
tertinggal di laci mejanya. Padahal dihari yang sama ia harus segera mendaftar
di universitas yang diinginkannya. Mio baru saja menyelesaikan study nya di
SMA, tapi ia masih sering ke sekolahnya itu sekedar menikmati layanan wifi
gratis, baginya menghabiskan waktu di taman sambil menikmati layanan gratis itu
jauh lebih menyenangkan daripada dirumah dengan tumpukan buku yang diberikan
orangtuanya, Mio tau itu untuk kebaikannya jadi ia mulai membagi waktu antara
hobi dan waktunya bermain juga waktu untuknya membaca buku panduan menjawab
soal untuk masuk universitas.
“Mio,
kamu rajin ya ke sekolah” teguran itu mengagetkan Mio yang bergegas ke
kelasnya.
“Iya ada barang yang ketinggalan
pak, jadi saya ke sekolah hehehe kelas dibuka kan?” tanyanya pada penjaga
sekolah yang bertugas memegang kunci kelas.
“Wah
baru saja bapak kunci, setelah kelas XI pulang sehabis ulangan tadi yasudah ini
kamu buka sendiri saja ya” Pak Iwan menyerahkan kunci kelas Mio.
“Sip pak nanti saya antar deh ke
bapak, ditempat biasa kan?” Mio hormat dengan penuh semangat, dan pak Iwan
hanya menggelengkan kepalanya.
Mio
membuka pintu kelas, kelasnya itu masih sama seperti sebelum ia lulus, masih
ada beberapa kertas berserakan akibat ulah penghuninya, malah Mio ingat hari
itu harusnya tugasnya menyapu tapi ia tidak melakukannya, jadi kertas itu masih
ada, Mio tersenyum mengingatnya. Meja mereka masih berada ditempat yang sama
papan tulis pun walau sudah putih bersih di sisi-sisi bagian atas masih
terlihat samar-samar tulisan yang menyemangati agar UN tahun ini lancar dan
semuanya lulus 100%, terlalu banyak kenangan disana membuat Mio lupa alasan
utamanya ke sekolah. Saat sadar ia pun menuju mejanya dan melihat lacinya,
buku-buku itu masih tersimpan rapi disana, mio mengambilnya dan bergegas keluar
mengunci pintunya kembali dan menuju tempat tongkrongan pak iwan, beliau
biasanya disaat senggang duduk dibangku yang dilindungi dedaunan pohon rindang
sambil menikmati sate pak Seto.
“Pagiii
pak Seto, semangat kali ngipasinnya” ucap Mio nyaring membuat yang dipanggil
terkejut.
“Mio, kau ini mengangetkan bapak
saja taiyeee” dan hal itu ditanggapi senyum iseng oleh Mio.
“Hehe
saya hari ini absen pak makan sate nya, abis ini ada schedule penting” ucap Mio
bangga.
“Gimana Mio udah ketemu barangnya?”
tanya pak Iwan
“Udah
dong pak, ini kuncinya makasih ya pak bantuannya dan buat pak Seto abis ini
saya mau daftar diuniv favorit saya doain keterima ya hehe” Mio minta doa dan
restu.
“Wah pasti dong kan kamu pelanggan
setia bapak, yakan Wan?” pak Seto berharap CS.an nya itu menyetujui ucapannya.
“Iya benar haha sukses ya Mio”
setelah ucapan Pak Iwan itu, Mio pun permisi dan bergegas menuju tempat
pendaftaran.
Chapter 1: Semangat Mio, kamu pasti bisa….
“Udah telat? Gak kan? Duhhh” tanya Mio pada
dirinya sendiri.
“Mio,
ayoo cepet sini ambil formulirnya” Risa memanggilnya.
“Ah Risa untung ada kamu, yaudah ini di isi
kan?” Mio mengambil formulir.
“Yaudah
kita duduk disana aja biar lebih santai ngobrolnya haha” Risa dan Mio menuju
meja dipojok belakang.
“Abis dari sekolah?” tanya Risa
“Iya
ngambil buku yang ketinggalan terus juga katanya Sho mau minjam haha jadi
semangat deh” Mio bercerita sambil mengisi formulirnya.
“Jadi demi sho? Emang dia perlu buku apa?”
“Kok
nadanya gitu sih Sa, harusnya seneng dong sahabatnya ada kemajuan hehe iya sho
minjam buku kumpulan penjelasan soal akutansi, entahlah dia mau masuk univ
mana”
“Dia aja gak bilang ngapain kamu repot-repot
sih baby? Jangan terlalu baik ah”
“Emang
aku terlalu baik ya? Masa sih kan aku bantu dia sebagai temen”
“Yaudah si aku males bahas sho, udah
formulirnya?”
“Dikit
lagi nulis alamat rumah nih, abis itu dikasih kemana?”
“Ke meja 4 sekalian bawa persyaratannya dalam
map, tunggu bentar lalu dikasih kartu peserta”
“Okesipp
beby. Abis ini makan ice cream yuk gimana?”
“Nyogok nih ceritanya?”
“Menurut
elo? Haha yaudah jangan manyun gitu, bentar aku ngasih ini dulu”
Setelah menyelesaikan urusan pendaftaran, Mio
dan Risa pergi ke kedai ice cream langganan mereka semasa SMA, bahkan pelayan
disana saat melihat mereka sudah tau rasa ice cream apa yang akan mereka pesan.
Mio tersenyum sendiri melihat handphone nya, ada pesan semangat dari seseorang
‘semangat mio kamu pasti bisa’ begitu isinya, cukup seperti itu saja sudah
membuat Mio bahagia, ia tidak ingin terlalu banyak berharap dan meminta, cukup
Sho menanggapnya teman yang bisa diandalkan, Mio sudah senang karena berarti
dia bisa dekat dengan cowok yang disukainya itu.
“Mio, kamu duluan ke meja ya aku mau ke
toilet dulu” ucap Risa & dibalas anggukan oleh Mio. Mio menuju meja yang
biasa mereka tempati, tapi ternyata sudah ada pelanggan yang duduk, Mio melihat
ke sekelilingnya, semua meja penuh hanya ada meja itu dan walau ragu ia mencoba
meminta pada pelanggan itu agar ia dan Risa boleh duduk disana.
“Permisi mas, saya boleh duduk disini?
Soalnya meja yang lain penuh sih” tanya Mio sopan dan saat orang itu
memalingkan wajahnya, seperkian detik Mio terdiam.
“Mio..
ah boleh kok itu juga kalo kamu gak keberatan semeja dengan ku” jawabnya.
“Mio, ah sudah ada pelanggan lain?”
pertanyaan Risa membuyarkan lamunan Mio.
“Ah
iya kita gabung disini aja ya. Gapapa kok lagian ini Ken, temen SMP ku” jelas
Mio.
“Ohh gitu, kalo temen Mio berarti temen ku
juga, kenalin Risa” ia mengulurkan tangan pada pria itu dan ia pun membalas
sambil berkata “iya, Ken salam kenal ya”
Suasana disana awalnya aneh, tidak ada yang
berbicara. Risa yang asik dengan ice cream nya tidak menyadari kecanggungan
antara Mio dan Ken, sementara mereka berdua mencoba ikut fokus dengan ice
creamnya, sampai Risa membuka suara.
“Oh iya Ken, pas SMP Mio gimana? Terkenal gak
dikalangan cowo abisnya semasa SMA dia gak ada pacaran loh katanya masih suka
ingat mantannya, kamu tau?” Risa bertanya secepat kereta api tanpa mampu distop
oleh Mio.
“Ah
gimana ya, haruskah ku bongkar?” Ken menyunggingkan senyumnya, mungkin itu yang
Mio rindukan sebelum bertemu Sho.
“Ah gak usah didengerin, Risa cuman asal
bicara ajakok hehe yakan?” Mio memberikan isyarat pada sahabatnya itu.
“Gak
papa lah aku penasaran sama dia yang sering kamu ceritain itu, awww” teriakan
itu karena Mio sengaja menginjak kaki Risa.
“Sorry, Risa orangnya emang suka gitu welcome
banget ke orang jadi terkesan sok kenal gitu deh, btw kabar kamu baik kan?” Mio
mencoba bersikap sewajarnya.
“Iya
gak papa kok, seneng aja kamu punya temen yang sayang dan baik ke kamu, jadi
aku gak terlalu merasa bersalah” Ken mengucapkannya sambil tersenyum.
“Oh iya abis lulus nerusin kemana?” Mio
memilih mengalihkan pembicaraan ia tak ingin larut dalam kenangan masa lalunya.
“Rencanya
jurusan seni. Sayang kan kebisaan main gitar gak dimanfaatkan?”
“Oh iya dulu kamu jago ya main gitar, sampai
nyiptain lagu segala”
“Mio,
aku..”
“Mio, semua sudah ku bayar, kamu juga Ken
anggap aja sebagai hadiah perkenalan ya ingat kalo ketemu dijalan jangan sok
gak kenal okeeeee, yuk pulang capek nih”
Sesampainya dirumah dan memasuki kamarnya,
Mio menghempaskan tubuhnya ke kasur ia rasa hari ini hari terpanjang
dihidupnya, banyak kejutan. Pertama ia telat untuk mendaftar universitas karena
harus mengambil beberapa buku dulu, mendapat pesan berisi semangat dari Sho dan
finally setelah sekian lama ia bertemu dengan orang itu, Ken. Mantan pacarnya
semasa SMP, cinta pertamanya dimasa putih biru, seseorang yang cukup menyita
waktunya, bahkan setelah putus Mio masih suka mengingatnya dan setelah sekian lama
itu ia mencoba melupakan Ken, saat hal itu sudah bisa dilupakannya malah
keadaan membuat mereka bertemu lagi, dalam waktu yang menurut Mio tidak tepat,
ditambah pertanyaan asal Risa yang jelas sekali tertuju untuk Ken, ia bingung
bila ditanya bagaimana perasaanya untuk Ken, ia takut Ken akan berfikir selama
ini ia terus memikirkannya, Mio tidak ingin menjadi beban bagi Ken ia sudah
pergi jauh dan mencoba melupakan semuanya, ia tidak berharap bertemu Ken disaat
seperti sekarang, saat ia mencoba menata hidupnya, saat ia yakin bahwa ia baru
saja menyukai seorang teman laki-lakinya, yaitu Sho.
“Mio, kamu sudah pulang? Pintunya ku buka ya”
seseorang masuk ke kamar Mio.
“Ahh
bang sota, kapan aku bolehin masuk?” protes adik kecilnya itu.
“Barusan siapa suruh bengong aja mikirin
siapa dia apa dia?” ledek Sota.
“Siapa?
Emang ada pilihan? Aku punya pilihan?” tanya Mio polos.
“Adalah, antara Ken dan Sho. Iyakan? Apa
jangan jangan Shin juga haha” Sota tertawa.
“Hah
apa-apaan Shin cuman sahabat dari kecil sampe sekarang kali” protes Mio lagi.
“Oke satu dah dicoret tinggal K or S?
ayooooo” desak Sota.
“Gak
ah gak ada aku cuman suka Sho gak berharap lebih”
“Terus Ken? Diakan yang buat adik kecil gue
galauu bertahun-tahun”
“Ken..
ah bang bisa gak jangan memperumit keadaan?”
“Kamu ketemu dia ya? Ayo cerita cepeeeet”
Sota mulai penasaran dan memaksa adiknya itu bercerita kepadanya.
Mio berhasil mengusir abang semata wayangnya
yang tinggi bagaikan tiang listrik itu dari kamarnya entah dia dapat gen dari
siapa dan darimana sehingga dapat tumbuh setinggi itu, dan hal itu cukup tidak
penting untuk Mio pikirkan, makin membuat kepalanya pusing. Ia meraih ipod nya
yang lama ia simpan didalam kotak kecil bersama semua barang-barang yang ada
hubungannya dengan Ken, ia tak tau apakah ipod itu masih bisa berfungsi, ia
hanya iseng menekan tombol tengahnya dan muncul lah semua playlist lagunya, ia
bangun dari ranjang dan mengambil headset yang ia taruh di meja belajar ia
pasang ditelinga mulai melihat playlist yang ada di ipod itu sampai terhenti di
lagu yang berjudul “for you” lagu sederhana itu dinyanyikan menggunakan gitar
acoustik hanya ada suara gitar yang mengiringi sang penyanyi mendendangkan
lagunya, tidak ada bantuan alat musik lain. Lagu itu cukup membuat Mio tenang
dan tanpa ia sadari ia telah memejamkan matanya dan mengingat semua kenangan
tentang lagu itu
“Ahh apalagi ini kenapa harus telat
dipelajaran Pak Sosmed” Mio mengutuki dirinya sendiri yang berdiri didepan
pagar sambil memandangi gembok yang menguncinya.
“Mio,
kamu telat?” tanyanya. Mio takjub dan terdiam dalam waktu yang cukup lama.
“Sho, iya telat mana abis ini Pak Sosmed
ngajar pelajaran tambahan lagi” ucapan itu terdengar menyedihkan bagi Sho, ia
meraih kunci disaku celananya dan membuka gembok itu.
“Loh,
kok bisa kok? Kamu sekarang jad pemegang kunci ya?” tanya Mio takjub.
“Hah? Ya enggak lah kebetulan aja aku punya,
tadi disuruh megangin ini sama pak satpamnya” jelas Sho.
“Yaudah
ayo masuk, dan ambil ini” Sho menyerahkan beberapa buku pada Mio.
Mereka berdua masuk ke kelas yang sudah ada
penghuninya *yaiyalah kan ada murid nya* Pak Sosmed sudah berdiri hendak
meneriaki Mio, sebelum itu Sho mengatakan bahwa Mio yang membantunya membawa
buku-buku yang disuruh Pak Sosmed, makanya ia telat masuk. Alasan itu cukup
terdengar masuk akal ditelinga Pak Sosmed, sehingga Mio lolos dari hukuman lari
2x lapangan sekolah. Padahal ini hanya pelajaran tambahan menuju jenjang
berikutnya, program gratis dari sekolah yang dari tahun ke tahun diadakan
dengan alasan agar siswa jauh lebih yakin dan mantap menuju universitas yang
mereka inginkan.
“Makasih ya kamu udah bantuin aku” Mio
membuka suaranya.
“Oke
gak papa kok kebetulan aja aku punya kuncinya” Sho memamerkan kuncinya.
“Sampai kapan kamu megang itu? Gak
dibalikin?” tanya Mio bingung.
“Dan
masalahnya aku lupa balikin, yaudah ntar aja” Sho tidak ambil pusing.
“Oh iya ini bukunya, yang kamu pengen pinjam
kemaren” Mio mengambil di dalam tasnya.
“Makasih
ya, oh ya gimana kemaren daftarnya? Lancar?”
“Hehehe iya tinggal nunggu tes tertulisnya
aja sebulan lagi”
“Lama
ya”
“Iya tapi ada baiknya, waktu belajar jadi
lebih banyak”
“Oke
yang pasti kamu harus semangat dong” kata-kata itu sangat membuat Mio senang,
disemangati dan bisa dekat dengan seseorang ia sukai.
Mio sudah menunggu Shin dikantin selama
beberapa menit, walau hanya beberapa menit ia sangat membenci yang namanya
menunggu walau Shin sudah siap memberikan alasan sepanjang lembar apapun tetap
Mio menolak mendengarnya, ia hanya sibuk memperhatikan detik demi detik pada
arlojinya.
“Mio, sorry telat tadi….” Shin sudah siap
menjelaskan.
“Oke
udah. Yuk cepetan kerumah keburu bang Sota pulang duluan” jawab Mio.
“Emang kenapa? Kalian lomba cepet-cepetan
sampai kerumah ya?” Shin polos bertanya.
“Gak
lah, cumin males aja denger dia bawel blablabla” Mio menjelaskan.
“Eh serius nih gak mau denger alasan tadi aku
telat?”
“Emang
kenapa? Kamu ketemu artiskah wowww sekelas siapa? Haha”
“Ini serius, lebih dari artis pasti kamu
seneng sekaligus terkesima wahahaha”
“Terus
SHIN siapakah gerangan yang bikin diriku TERKESIMA?”
“Nakajima Kento”
“Hah nakajima? Plis deh gue pingsan disini
nihhhhhhh”
“Ya
gak mungkin lah ngapain dia kesini, itu nemu kembarannya si Kentoto”
“Ken aja kali gak usah make toto segala”
“Kok
situ gak kaget sih. Ahh jangan-jangan..”
“Kemaren aku sama Risa beli ice cream
ditempat biasa dan gak sengaja ketemu dia”
“Terus?”
“Yaudah deh shin baik shin imut sekaligus
bawel kita ceritanya sambil jalan ya”
Mio mulai menceritakan dari abc-z dari awal
sampai akhir tentang pertemuannya dengan Ken pada Shin. Sahabatnya itu hanya
manggut-manggut dan sesekali memberikan reaksi berlebihan yang membuat Mio tak
bias menahan tawa gelinya, hari itu mereka berencana menghabiskan waktu dirumah
Mio, bersama Risa juga tapi hanya Shin dan Mio yang dating bersama, Risa
mengatakan ada urusan dan segera menyusul ke rumah Mio setelahnya. Sampai
dirumah, ternyata abang Mio sudah sampai lebih dulu. Ia sedang duduk santai
diteras rumah bersama kedua orang tua mereka.
“Tuhkan duluan gue sampai pasti elo
curhat-curhatan dulu kan sama Shin?” Sota bangga.
“Kok
abang tau tadi Mio cerita tentang Ken? Aww sakit tau” Shin berteriak dengan
polosnya merasa sakit karna kakinya sengaja diinjak oleh Mio.
“Apaan sih, nih gara-gara Shin lama banget
ditungguin jadinya telat” Mio membela diri.
“Yasudah
kamu cepat masuk ganti baju terus makan ajak Shin juga” perintah ibunya.
“Wah halo om tante, saya lama gak kesini nih
udah kangen makan masakan tante sama main catur sama om” Shin menyapa dan
mencium kedua tangan orangtua Mio.
“Kamu
yang lama gak kesini, Sota gak bisa diajak main kalah mulu” ayahnya melirik kea
rah Sota dan anaknya itu hanya menatap dengan tatapan kosong.
“Hahaha bang sota sih emang payah yah jagoan
Shin wkwk” Mio merasa menang.
“Halah
kamu juga kalo bahas Ken pasti kalah wee” Sota melet-melet depan Mio.
“Rese deh, tuh Ma bang Sota bikin bête, yuk
ah Shin cepet masuk” Mio menarik tangan Shin masuk kerumahnya.
“Jadi
abang elo udah tau mengenai Kentoto?” Shin berusaha bersikap serius.
“Yowaaa entahlah feelingnya kuat banget soal
Ken” jawab Mio singkat.
“Hmm
mereka soulmate mungkin” ucapan Shin membuat Mio yang sedang minum tersedak.
“Jadi tadi kamu ketemu Ken, dia bilang apa?”
Mio mulai serius bertanya.
“Awalnya
aku kaget, dia duduk ditempat biasa kita kumpul dulu ditoko persimpangan jalan
sana, dia yang nyapa duluan, Cuma nanya gimana kabar dan ehmmm.. ini harus make
pembawaan yang baik nih, kata dia gini ‘kelihatannya kamu baik Shin, terus
bagaimana dengan sahabatmu itu kelihatannya dia sangat senang sekarang, dia
lagi suka siapa? Gimana orangnya lebih keren gak dari aku? Jagain dia ya Shin’
yah gitulah katanya” Shin menceritakan sedetail-detailnya.
“Terus jawaban kamu?” desak Mio.
“Ya
aku jawab apa adanya lah, kataku… bentar hp ku bunyi ada sms, dari Risa katanya
dia gak bias kesini ada urusan mendesak” ucap Shin dan Mio hanya terdiam.
Shin sudah pulang dari tadi sore, seharusnya
sekarang waktu tidur untuk Mio tapi sedari tadi ia hanya fokus berpikir sambil
memeluk guling, tentang ucapan Shin mengenai Ken, Risa yang tiba-tiba
membatalkan janji mereka, entahlah Mio merasa semuanya berhubungan. Kenapa Ken
kembali hadir dalam hidupnya, Shin juga Sota kenapa juga sahabat dan kakaknya
itu seperti bersekongkol untuk kembali membahas Ken yang sudah 2 tahun lebih
menghilang, seperti ada yang ia sembunyikan, tapi apa? Tentang perpisahan
mereka kah? Atau ada alasan lain, semakin memikirkannya semakin Mio merindukan
saat itu, sebegitu inginnya pun ia kembali, hal itu sudah berlalu dan sekarang
apa tidak cukup dengan Sho? Ia sudah mulai menyukai lelaki itu, walau baru
beberapa bulan ia merasa Sho lah yang membantunya melupakan Ken, tanpa harus
membenci laki-laki yang dulu dicintainya itu. Sementara Sho ia tak tau bagaima
perasaan orang itu, ia hanya merasa dengan menyukainya sudah cukup, tapi sulit
bagi Mio melihat Sho dengan gadis lain, kadang ada perasaan aneh dihatinya,
kadang ia juga ingin banyak menghabiskan waktu bersama Sho.


1 komentar:
Las Vegas' Wynn Casino - JTM Hub
Casino. Wynn is a goyangfc $4 billion resort with four hotel towers with 5,750 rooms and suites. Each www.jtmhub.com of the hotel towers includes a gri-go.com 20,000 casinosites.one square foot poormansguidetocasinogambling casino and a
Posting Komentar